Cutting (Memotong)

Pengertian


Membuat busana atau pakaian adalah menggabungkan beberapa pola potongan kain dengan dijahit membentuk busana atau pakaian dengan ukuran dan model sesuai yang dikehendaki.

Cutting adalah memotong lembaran kain menjadi bentuk sesuai pola yang dikehendaki untuk kemudian bisa dijahit menjadi pakaian.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses cutting antara lain:

  1. Menyiapkan tempat kerja
  2. Menyiapkan bahan
  3. Meletakkan pola di atas bahan
  4. Memotong bahan sesuai pola
  5. Mengemas (bundling)
  6. Memindahkan tanda-tanda pola

 

 

A. Menyiapkan Tempat Kerja


Tempat kerja merupakan bagian penting dalam suatu usaha, baik langsung maupun tidak langsung tempat kerja sangat berpengaruh terhadap kenyamanan dan keselamatan pekerja. Lingkungan atau suasana yang menyenangkan (comfortable) dan aman (safe) akan menimbulkan gairah produktivitas kerja.

Tempat kerja sebaiknya yang ergonomik atau sesuai dengan kebutuhan. Alat seperti meja potong, bahan/kain yang akan dipotong dan alat-alat potong lainnya yang diperlukan disusun sesuai dengan urutan proses kerja.

Fasilitas yang harus disediakan adalah:

  • ruang kerja untuk memotong bahan,
  • almari tempat bahan, 
  • tempat alat potong,
  • tempat khusus untuk menyimpan bahan yang telah dipotong,
  • tempat sampah/tempat sisa-sisa potongan.

Memotong bahan dengan menggunakan mesin potong membutuhkan tempat kerja yang berbeda dengan memotong bahan menggunakan gunting biasa yang dilakukan secara manual.

Memotong bahan dengan gunting biasa cukup dengan menggunakan meja potong yang sederhana. Sedangkan memotong bahan dengan mesin potong dibutuhkan meja potong sesuai dengan jenis dan besarnya mesin potong yang dipakai.

Biasanya meja yang digunakan untuk memotong bahan pada produksi massal adalah:

  • Meja dengan ukuran yang lebih besar. Lebarnya minimal 1,5 m dan panjangnya minimal 3 m sesuai dengan besar kecilnya kapasitas produksi.
  • Gunting khusus untuk konveksi (round knife, band knife, double knife, straight knife).

Cutting perorangan lebih sederhana, meja potong cukup dengan 2 m x 0,8 m. Di sekolah/workshop layout-nya disesuaikan dengan jumlah siswa dan besar ruangan.

Ruang kerja yang perlu diperhatikan adalah ruang kerja yang sesuai dengan kebutuhan, rapi dan menyenangkan sehingga tidak menimbulkan kebosanan.

Beberapa manfaat yang dapat diambil dari penerapan tempat kerja yang sesuai dengan konsep budaya kerja, diantaranya:

  • Tempat kerja menjadi lebih teratur dan efisien, sehingga bila ingin melakukan diversifikasi produk lebih mudah.
  • Tempat kerja, mesin-mesin dan peralatan yang teratur dan bersih siswa/pekerja diharapkan lebih kerasan, bekerja lebih maksimal.
  • Tempat kerja yang teratur, rapi dan bersih diharapkan mampu meminimalkan resiko terjadinya kecelakaan di tempat kerja,
  • Proses pemotongan bahan lebih efektif dan tepat waktu.

 

 

B. Menyiapkan Bahan


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyiapkan bahan adalah:

 

Perencanaan Busana

Sebelum membuat busana terlebih dahulu kita hendaklah membuat perencanan, dengan perencanaan yang baik maka diharapkan akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan. Perencanaan busana dituangkan dalam bentuk desain atau model busana.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan busana adalah:

  • Desain busana
  • Analisa desain
  • Pola busana

 

Desain Busana

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam mendesain busana adalah:

  • bentuk tubuh
  • kesempatan

Bentuk tubuh si pemakai seperti langsing, gemuk pendek, tinggi langsing dan sebagainya. Dalam mendesain busana hendaklah dapat mengatasi masalah-masalah tubuh, dapat menutupi atau menyembunyikan kekurangan pada tubuh.

Kemudian kesempatan, seperti busana untuk kesempatan bekerja, busana untuk kesempatan berpesta, busana sehari-hari, dan busana untuk kesempatan yang lainnya. Mendesain busana untuk pesta cenderung akan memberikan kesan yang lebih mewah sedangkan desain untuk busana kerja biasanya menampakkan kesan resmi dan nyaman.

Sebelum membuat busana terlebih dahulu tentukanlah desain busana itu sendiri. Pemilihan desain busana dapat dirancang sendiri ataupun dengan  mengambil/memilih desain dari majalah. Sebagai seorang penata atau pengelola busana harus dapat memahami atau membaca desain busana itu sendiri, untuk itu diperlukan pengetahuan dasar dan latihan-latihan menyimak model dan mengkonstruksi pola sesuai dengan desain.

Masalah yang sering terjadi adalah ketidak sesuaian hasil pakaian dengan desain yang diharapkan. Hal ini bisa disebabkan karena kurang tepat dalam merubah pola dasar sesuai dengan desainnya. Kesalahan teknis dalam merubah pola akan menghasilkan pakaian yang tidak sama dengan desain, bisa lebih buruk atau mungkin lebih baik, tetapi pastinya sudah tidak sesuai dengan yang diharapkan semula.

 

Analisa Desain

Dalam menganalisa desain kita bisa mengamati dari gejala-gejala atau ciri-ciri dari desain itu sendiri seperti:

  • Gejala perspektif
  • Siluet
  • Teknik penyelesaian busana
  • Warna dan corak bahan
  • Ciri-ciri desain
  • Analisa desain dan konstruksi

Gejala perspektif

Contoh desain yang berupa sketsa atau foto, ada yang lurus ke depan, ada yang dengan sikap gaya menyamping atau pun sikap membelakangi lensa dan sebagainya. Dengan gaya-gaya tersebut suatu desain pakaian ada kalanya dapat diamati dengan mudah dan ada kalanya menjadi meragukan terutama pada pose menoleh ke kiri atau ke kanan dimana desain seperti ini jika diperhatikan maka bagian kiri atau kanannya tidak sama, bagian yang lebih dekat mata (lebih depan) akan terlihat lebih besar dan sebaliknya. Hal ini adalah gejala perspektif dalam pandangan mata, jadi dalam menganalisa model hal-hal tersebut di atas perlu diperhatikan agar tidak salah dalam menganalisa suatu desain.

Siluet

Dengan melihat dan mengamati siluet dari busana kita dapat menaksir dan menentukan jenis bahan dari busana itu sendiri. Siluet yang tegang dan mengembang dengan garis sisi yang lurus, menandakan bahannya tebal dan kaku, bila sisinya lengkung atau bawah baju/rok agak bergelombang maka bahan yang digunakan adalah lembut. Siluet yang melangsai kebawah selain menandakan bahannya lembut juga dapat dilihat arah benangnya yang memanjang ke bawah dan bila lebih bergelombang pinggirnya berarti arah benang diagonal dan sebagainya.

Teknik penyelesaian busana

Teknik penyelesaian suatu busana sangat menentukan kualitas dari busana itu sendiri, kesalahan dalam menganalisa desain akan menjadi kesalahan dalam teknik penyelesaiannya. Seperti ada desain dengan kantong klep, kemudian dibuat dengan klep palsu (tanpa kantong), dilihat dari bentuk sama tapi kualitas dari busana itu sendiri akan turun dari yang semestinya.

Warna dan corak bahan

Gambar desain pada majalah mode tidak selalu memakai warna sehingga penyimak mode perlu menaksir warna dan corak untuk suatu desain. Sebaiknya kita mencari suatu desain yang cocok untuk bahan yang telah kita beli. Misalnya desain busana yang ramai kita kombinasikan dengan warna yang lembut sehingga lebih serasi dengan corak dan warna yang mencolok.

Ciri-ciri desain

Ciri-ciri khusus pada busana dapat kita amati untuk menentukan desain yang benar karena terlihat sama atau serupa tapi sebenarnya konstruksinya berbeda, seperti desain berikut:

  • Kerah setali dengan kerah river, perbedaannya terletak pada garis sambungan pada kerah bagian muka, dan untuk kerah setali pada kerah tengah belakang mempunyai sambungan sedangkan kerah river tidak mempunyai sambungan.
  • Ciri-ciri blus yang mempunyai kampuh pinggang dan yang tidak berkampuh pinggang. Ciri-ciri blus yang berkampuh pinggang dibawah ikat pinggang terdapat lipit kup atau kerutan, di atasnya polos. Untuk yang tidak memakai kampuh pinggang di atas atau pun di bawah ikat pinggang sama, pakai kerutan atau tanpa kerutan dan pakai lipit atau tidak pakai lipit.

Analisa desain dan konstruksi.

Merubah pola dasar menjadi pola busana sesuai dengan desain tertentu terdapat pada cara memindahkan lipit pantas (lipit kup) pola dasar wanita dewasa, karena lipit pantas ini merupakan aset dalam pecah pola atau merobah pola. Begitu pula mengkonstruksi pola pakaian sesuai dengan desain dapat dengan memindahkan lipit pantas sehingga menjadi desain yang baru atau menjadi garis hias seperti garis princes, garis empire serta garis hias lainnya. Memecah lipit pantas pada rok dan mengembangkannya menjadi rok model A. Begitu pula dengan bentuk kerah, bentuk lengan dan sebagainya.

Contoh analisa desain

Amatilah desain di bawah ini, lalu dianalisa dan kita coba bagaimana membuat konstruksinya.

Gaun ini mempunyai garis pas empire, lipit kup dijadikan kerutan di bawah buste (buah dada). Konstruksinya, lebih kurang 9 cm dari garis pinggang (½ panjang sisi) untuk pas pinggang kupnya dihilangkan. Memakai lengan kop, konstruksinya adalah; puncak lengan dipecah (digunting) dan dikembangkan. Kerah sanghai (kerah board). Rok model A, konstruksinya; lipit kup (lipit pantas) dilipatkan dan pada ujung kup digunting dan secara otomatis akan menjadi kembang (terbuka) setelah lipit kup ditutup.

 

Pola Busana

Pola busana adalah pola yang telah dirubah berdasarkan desain dari busana tersebut. Membuat pola busana bisa dengan pengembangan, pecah pola, atau pun mengkonstruksi pola berdasarkan model dan analisis model seperti pola blus yang terdiri dari pola blus muka, belakang, lengan, kerah dan perlengkapan lainnya seperti saku (kalau ada) sesuai dengan model, semua sudah lengkap dengan tanda-tanda pola seperti tanda arah benang, tanda lipatan, tanda kampuh dan sebagainya.

Contoh lain pola celana yaitu: pola celana bagian muka, pola celana bagian belakang, saku, pola ban pinggang dan sebagainya. Begitu juga dengan model-model busana lainnya.

 

Memilih Bahan

Bahan (tekstil) memiliki ragam jenis dan karakter masing-masing. Terdapat bahan dengan karakter kaku, langsai, lembut, halus, kasar, berat, ringan, tebal, tipis, transparan, dan sebagainya.

Saat pembelian, spesifikasi mutu kain harus jelas yaitu antara lain:

  • Dimensi (panjang, lebar, berat, dan mungkin tebal kain, termasuk toleransinya).
  • Jumlah dan jenis cacat yang diperbolehkan tiap unit (termasuk cara penilaiannya dan lembaga penilai yang ditunjuk jika terjadi perbedaan pendapat).
  • Rincian konstruksi dan sifat kain yang diminta (didasarkan pada laporan uji/tes).

Di samping hal di atas, keserasian antara bahan dengan desain busana sangat perlu diperhatikan. Siluet pakaian juga harus dipertimbangkan sebelum kita memilih bahan. Perhatikan kesesuaian bahan terhadap desain pakaian berkerut, berlipit atau mengembang. Caranya, bahan digantungkan memanjang dengan dilipit-lipit untuk memperhatikan jatuhnya. Perhatikan kasar/halusnya dengan diraba dan beratnya kita timbang apakah syarat-syarat pada desain telah terpenuhi.

Karakter permukaan kain atau tekstur kain dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu:

  1. Kilau/kusam (bila dilihat atau efek pantulan cahaya)
  2. Kasar/halus (jika diraba)
  3. Berat/ringan/tipis/kaku (jika dipegang)
  4. Mewah/sederhana (kesan pada penglihatan).

Setiap tekstur mempunyai pengaruh terhadap penampilan suatu busana dan bentuk badan si pemakai.

Bahan yang berat atau tebal akan memberikan bentuk yang lebih berisi. Bahan yang berkilau akan menambah kesan besar dibandingkan bahan dengan permukaan kusam.

Bahan tekstil yang bercorak atau bermotif juga akan ikut berperan membentuk kesan tertentu pada busana atau si pemakai. Motif garis-garis atau kotak-kotak akan memberikan kesan kaku.

Jadi hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyiapkan bahan adalah kesesuaiannya terhadap desain, bentuk tubuh, usia, jenis pakaian, dan kesempatan si pemakai.

 

Memeriksa bahan

Pemeriksaan bahan di sini antara lain:

  • pengujian sifat kain, dan
  • pemeriksaan kain sebelum dipotong.

 

Pengujian sifat kain

Untuk mengetahui dan memastikan sifat kain maka perlu dilakukan sejumlah pengujian atau pengetesan. Pengujian dapat dilakukan sesuai dengan tujuan pemakaiannya.

Beberapa pengujian kain yang umum dan biasa dilakukan antara lain adalah:

  • Warna; kesesuaian warna dan ketahanan luntur warna terhadap pencucian, keringat, gosokan, sinar matahari, penyetrikaan, gas tertentu dan air laut.
  • Kestabilan dimensi kain dalam pencucian
  • Ketahanan kusut dan sifat langsai (drape) termasuk sifat kain yang tidak memerlukan penyetrikaan setelah pencucian (sifat durable press).
  • Kekuatan tarik, sobek dan jebol.
  • Tahan gesekan dan pilling, terutama untuk serat sintetik
  • Sifat nyala api, sebelum atau sesudah beberapa kali pencucian.
  • Lengkungan dan kemiringan benang pada kain (bowing & skewing).
  • Daya serap kain terhadap air.

 

Pemeriksaan kain

Disamping memeriksa bahan sebelum membeli, memeriksa bahan sebelum dipotong juga wajib dilakukan, terlebih terhadap kain yang dibeli dalam bentuk gulungan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:

  • Kesesuaian bahan dengan desain.
  • Ukuran bahan sesuai dengan ukuran marker.
  • Pemeriksaan cacat kain, baik cacat bahan, cacat warna atau pun cacat printing. Ditandai dan dihindari waktu menyusun pola perseorangan.
  • Tes susut kain, apabila kain menyusut signifikan maka bisa direndam atau direlaksasikan terlebih dahulu.
  • Menggelar bahan, panjangnya berdasarkan marker.

 

 

C. Meletakkan Pola Di Atas Bahan


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam peletakan pola di atas bahan adalah:

  • rancangan bahan,
  • metode rancangan bahan dan harga
  • Menggelar kain (spreading).

 

Rancangan Bahan

Merancang bahan adalah memperkirakan banyaknya bahan yang dibutuhkan pada proses pemotongan. Rancangan bahan diperlukan sebagai pedoman ketika memotong bahan.

Bila rancangan bahan berbentuk marker yang dipakai untuk memotong bahan dalam jumlah banyak, maka panjang marker dijadikan ukuran untuk menggelar bahan sebanyak jumlah yang akan diproduksi, atau disesuaikan dengan kemampuan alat potong yang digunakan.

Cara membuat rancangan bahan:

  • Buat semua bagian-bagian pola yang telah dirobah menurut desain serta bagian-bagian yang digunakan sebagai lapisan dalam ukuran tertentu seperti ukuran skala 1:4.
  • Sediakan kertas yang lebarnya sama dengan lebar kain yang akan digunakan dalam pembuatan pakaian tersebut dalam ukuran skala yang sama dengan skala pola yaitu 1:4.
  • Kertas pengganti kain dilipat dua menurut arah panjang kain dan bagian-bagian pola disusun di atas kertas tersebut.
  • Terlebih dahulu susunlah bagian-bagian pola yang besar baru kemudian pola-pola yang kecil agar lebih efektif dan efisien.
  • Hitung berapa banyak kain yang terpakai setelah pola diberi tanda-tanda pola dan kampuh.

Metoda perencanaan marker dapat dilakukan antara lain:

  1. Menggunakan pola dengan ukuran sebenarnya langsung di atas marker dengan jalan mengatur letak pola-pola agar didapat efisiensi marker yang terbaik.
  2. Menggunakan pola yang diperkecil. Untuk memperkecil pola ini, digunakan peralatan antara lain, pantograph, meja skala dan kamera.
  3. Menggunakan computer yang terintegrasi, yang terdiri dari:
    • Digitizer, keyboard, mouse sebagai pemasok data.
    • CPU sebagai pengolah data dan media penyimpanan.
    • Monitor sebagai media pemantau
    • Printer, plotter sebagai media pencetak.

Metoda pembuatan dan penggandaan marker dapat dilakukan antara lain:

  • Digambar dengan tangan, mengikuti pola pada kertas. Pembuat marker meletakkan pola di atas kertas, lalu menggambar dengan mengitari pola untuk setiap pola dan masing-masing ukuran diberi kode.
  • Dengan komputer. Pembuat marker tinggal memberi instruksi ke komputer untuk menggambarkan (print) marker keatas kertas. Perintah ini diteruskan dan marker digambar oleh plotter.
  • Digambar langsung ke kain/bahan, caranya dengan mengitari pola dengan spray marking.

 

Merancang Bahan dan Harga

Merancang bahan dan harga artinya memperkirakan banyaknya keperluan bahan serta biaya yang dibutuhkan untuk selembar pakaian.

Tujuan membuat rancangan bahan dan harga adalah:

  • Untuk mengetahui banyak bahan yang dibutuhkan sesuai desain busana yang akan dibuat.
  • Untuk menghindari kekurangan dan kelebihan bahan.
  • Sebagai pedoman waktu menggunting agar tidak terjadi kesalahan.
  • Untuk mengetahui jumlah biaya yang diperlukan.

Merancang bahan dan harga dapat dilakukan dengan dua cara:

  • Menghitung jumlah bahan secara global
  • Membuat rancangan bahan dengan ukuran skala

 

Menghitung jumlah bahan secara global

Dengan menghitung jumlah bahan secara global, kita dapat memperkirakan jumlah bahan yang terpakai atau yang akan digunakan untuk satu desain pakaian.

Caranya dengan mengukur panjang bagian-bagian pola pakaian seperti panjang blus/gaun, panjang lengan, panjang rok atau panjang celana dan ditambah kampuh setiap bagian pakaian. Disamping itu kita juga mempertimbangkan lebar kain yang digunakan dan membandingkannya dengan bagian pola yang terlebar dan letak masing-masing pola.

Perhitungan secara global ini dapat diaplikasikan untuk desain pakaian yang tidak terlalu rumit seperti rok, celana atau blus dengan desain yang sederhana.

 

Membuat rancangan bahan dengan ukuran skala

Pola pakaian dibuat dengan ukuran skala, apakah skala 1:4, 1:2, 1:6 atau 1:8 atau dengan pola ukuran asli/ukuran sebenarnya dan kertas dengan ukuran sebenarnya.

Sesuaikan lebar bahan yang akan dipotong dengan lebar kertas yang dijadikan untuk rancangan bahan/kertas pengganti kain.

Susun pola pakaian di atas kertas pengganti kain seefektif dan seefisien mungkin.

Cara membuat rancangan bahan dan harga:

  1. Buatlah semua bagian-bagian pola yang telah dirobah menurut desain dalam ukuran tertentu seperti ukuran skala 1:4. Setiap pola dilengkapi dengan tanda-tanda pola yaitu: arah serat, tanda lipatan bahan, kampuh dan sebagainya, dan juga siapkan bagian-bagian pola yang kecil seperti kerah, lapisan-lapisan pakaian termasuk depun atau serip dan sebagainya;
  2. Sediakan kertas yang lebarnya sama dengan lebar kain yang akan digunakan dalam pembuatan pakaian tersebut seperti: kain dengan lebar 90 cm, 115 cm, atau kain dengan lebar 150 cm dalam ukuran skala yang sama dengan skala pola
  3. Kertas pengganti kain dilipat dua menurut arah panjang serat, susun dan tempelkan pola-pola tersebut di atas kertas pengganti kain sesuai dengan tanda-tanda pola seperti tanda arah benang, tanda lipatan kain dan sebagainya, selain itu yang juga perlu diingat yaitu susunlah pola yang ukurannya paling besar, setelah itu baru menyusun bagian-bagian pola yang lebih kecil dan terakhir menyusun pola yang kecil-kecil, cara ini akan lebih efisien dan efektif. Jika pola yang disusun belum memakai kampuh, ketika menyusun pola harus dipertimbangkan jarak antara masing-masing pola lalu diberi tanda kampuh pada setiap bagian pola tersebut.
  4. Jika semua pola telah diletakkan dan telah diberi tanda, ukurlah panjang bahan yang terpakai, sehingga dapat ukuran kain yang dibutuhkan/berapa banyak kain yang terpakai.
  5. Hitung juga pelengkap yang dibutuhkan, seperti kain furing, ritsleting, pita/renda, benang, kancing baju, kancing hak dan lain sebagainya (sesuai desain).
  6. Hitunglah berapa banyak uang yang diperlukan untuk membeli bahan dan perlengkapan lainnya dalam pembuatan pakaian tersebut.

Untuk produksi massal bahan tidak dilipat dua, polanya juga dibuat lengkap (utuh) bukan sebelah, pola tersebut itulah yang disusun untuk membuat marker, dan marker ini selain untuk menghitung jumlah bahan, juga dipakai sebagai pedoman untuk ukuran penggelaran bahan (spreading).

Setelah siap, marker ditempelkan di atas spreading yang akan digunting.

 

Menggelar Kain (Spreading)

Persyaratan proses spreading yang baik adalah:

  1. Kerataan pada pinggiran tumpukan kain
  2. Penanggulangan cacat kain
  3. Arah lapisan kain
  4. Tegangan lapisan kain
  5. Kemudahan dalam memisahkan antar lapisan hasil pemotongan
  6. Menghindari distorsi kain pada saat penggelaran

Penggelaran kain dapat dilakukan dengan:

  1. Manual dengan tangan di atas meja datar;
  2. Manual dengan tangan dan bantuan jarum kait;
  3. Menggunakan mesin penggelar.

 

 

D. Memotong Bahan Sesuai Pola Pakaian


Memotong (cutting) adalah proses memotong (tumpukan) lembaran kain menjadi bentuk pola sesuai rancangan bahan menggunakan gunting atau mesin potong.

Tujuan pemotongan kain adalah untuk  memisahkan bagian-bagian dalam lapisan kain sesuai dengan pola pada rancangan bahan/marker.

Hasil potongan yang baik adalah yang rapih, bersih, pinggiran kain hasil potongan terputus satu dengan yang lainnya.

Kesalahan pada cutting umumnya sangat sulit untuk diperbaiki sehingga segala sesuatunya harus dilakukan sesuai prosedur dan dengan persiapan yang matang.

Pada dasarnya, semua perusahaan garmen mempunyai alur proses produksi yang sama dalam menghasilkan potongan kain yang siap jahit, baik perusahaan kecil maupun besar, hanya tingkat operasi teknologi saja yang berbeda.

Hasil potongan yang baik adalah tepat pada tanda-tanda pola dan tidak terjadi perubahan bentuk. Hal ini akan memudahkan dalam menjahit dan menghasilkan jahitan yang sesuai dengan kebutuhan/ukuran.

Apabila menggunakan alat potong gunting maka digunakan gunting yang tajam.

Terdapat beberapa jenis Alat potong untuk produksi massal, antara lain:

  • Pisau potong lurus (straight knife) yang mempunyai 2 mata pisau, ukuran panjang mata pisau bervariasi 10 s.d 33 cm dengan gerakan naik dan turunnya 2,5 s.d 4,5 cm, makin besar gerakan pisau pemotong maka semakin cepat proses pemotongan dan lebih memudahkan operator dalam mendorong pisau tersebut dan bisa memotong kain lebih banyak.
  • Mesin potong pisau bundar (round knife), pisau ini terbatas hanya untuk jenis potongan lurus. Diameter pisau bervariasi mulai dari 6 cm sampai dengan 30 cm.
  • Mesin potong pita (Band Knife), hasil potong pisau ini sangat akurat, terutama dipakai untuk pemotongan pola-pola kecil atau yang berbentuk aneh.
  • Alat potong cetak (Dil Cutting), bentuknya sama dengan pola yang akan dipotong, kelemahannya apabila tumpul tidak bisa dipakai. Biasanya untuk memotong kerah, manset dan sebagainya.
  • Alat pemotong computerize (dikendalikan dengan komputer). Cara ini lebih akurat dan cepat. Disini tidak dibutuhkan marker karena susunan polanya dapat diatur di dalam komputer.

Dalam cutting perhatikan juga tanda bantu seperti kampuh dan kupnat. Biasanya kampuh pakaian yang dipotong sudah standar sesuai dengan produk yang akan dibuat, hal ini sudah diketahui operator jahit sehingga tidak memerlukan tanda, dan kalau ada tanda-tanda yang khusus seperti kupnat maka hanya perlu memberi titik pada ujung atau sudutnya dengan lubang halus dan atau tanda lainnya yang sudah dipahami bersama.

Teknik/strategi memotong juga perlu diperhatikan, misalnya sebelum memotong sudah disiapkan semua pola sampai pada komponen-komponen yang kecil-kecil. Bahan sudah diperiksa dan bila tidak lurus diluruskan bila susah meluruskannya dapat dengan cara menarik satu benang kemudian dipotong pada bekas tarikan benang tersebut. Jika bahannya tidak rata maka ditarik dua sudut dengan arah diagonal sehingga hasilnya rata dengan sudut 900, langkahnya sebagai berikut:

  1. Bahan dilipat dua di atas meja potong dengan posisi bagian baik bahan di luar atau sebaliknya.
  2. Pola-pola disusun dengan pedoman rancangan bahan dengan bantuan jarum pentul.
  3. Setelah semua diletakkan baru dipotong, jika memotong dengan tangan/menggunakan gunting biasa, gunting dipegang dengan tangan kanan dan tangan kiri diletakkan rata di atas kain dekat bahan yang digunting atau sebaliknya.
  4. Bahan tidak boleh diangkat pada saat menggunting karena hal ini akan menyebabkan hasil guntingan tidak sesuai dengan bentuk pola.
  5. Guntinglah bagian-bagian yang besar terlebih dahulu seperti pola bagian muka dan pola bagian belakang, pola lengan, setelah itu bagian yang kecil-kecil, seperti kerah, lapisan leher dan sebagainya.
  6. Hasil guntingan harus rata dan rapi. Sisa-sisa guntingan atau perca disisihkan sehingga meja dan ruangan tetap bersih. Usahakan pola atau perca tidak berantakan/berserakan baik di atas meja maupun di bawah meja.
  7. Sebelum pola dilepaskan tanda-tanda pola dan batas-batas kampuh dipindahkan, cara memindahkannya bermacam-macam antara lain menggunakan kapur jahit, rader dan karbon jahit, pensil kapur dan sebagainya.

Kalau memotong bahan untuk produksi massal seperti konveksi, caranya adalah:

  1. Bahan digelar (tidak perlu dilipat) sesuai ukuran panjang marker dan ditumpuk sesuai dengan rencana jumlah produksi.
  2. Sisi tumpukan kain harus rata, ketegangan lapisan kain sama, dan bahan–bahan bersih dari yang cacat. Penggelaran dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin penggelaran.
  3. Bila sudah sesuai jumlah lapisannya, marker diletakkan di atas bahan,
  4. Potong dengan alat potong.
  5. Pada saat pemotongan, bahan pembantu (pelapis) juga ikut dipotong. Hasil pemotongan harus rapi dan bersih, pinggir kain potongan tidak saling menempel.
  6. Setelah selesai pemotongan dibundel dan di beri nomor kode sesuai dengan desain, ukuran dan warna juga disesuaikan dengan urutan proses penjahitan sehingga pekerjaan lebih cepat dan lancar.

 

 

E. Mengemas Pola dan Potongan (Bundling)


Bundling adalah pemisahan dan penggulungan hasil potongan bagian-bagian pola (panel) yang sudah diberi tiket yang kemudian jumlah penggulungan disesuaikan dengan jumlah yang tertera pada tiket tersebut.

Proses bundeling antara lain:

  1. Menghitung bahan yang sudah dipotong (bagian-bagiannya)
  2. Menulis order
  3. Pemberian tiket
  4. Jumlah
  5. Size/ukuran
  6. Stamping

Komponen-komponen busana yang sudah dipotong di-bundle, maksudnya komponen disiapkan berdasarkan ukuran, warna dan jumlahnya sesuai dengan komposisi yang diperlukan di bagian penjahitan (sewing).

 

 

F. Memindahkan Tanda-Tanda Pola


Setelah bahan digunting, bentuk pola dipindahkan pada bahan dan tanda-tanda pola yang lainnya kadang-kadang juga perlu dipindahkan.

Berikut ini adalah tanda-tanda pola yang biasanya dipindahkan pada bahan:

  1. Garis pinggir (tepi) pola
  2. Garis bahu muka dan belakang
  3. Garis sisi badan muka dan belakang
  4. Garis lingkar kerung lengan
  5. Garis lipit pantas (kupnat)
  6. Garis tengah muka dan tengah belakang
  7. Garis lipatan bawah baju/blus, bawah rok, ujung lengan
  8. Tanda puncak lengan
  9. Batas pinggang, garis empire, garis princes kalau ada.
  10. Batas kerutan kalau ada
  11. Dan tanda-tanda khusus lainnya sesuai desain

Alat-alat yang digunakan untuk memberi tanda pada bahan adalah: rader, karbon jahit, dan pensil kapur. Rader biasanya digunakan berpasangan dengan karbon jahit, rader ada yang memakai gigi dan ada yang licin.

Pastikan roda rader dapat dipergunakan dengan lancar, tidak oleng dan hasilnya dapat memberikan bekas yang rapi. Karbon jahit yang dipakai adalah khusus untuk kain. Warna karbon bermacam-macam, antara lain putih, kuning, hijau, merah. Jangan memakai karbon mesin tik karena susah dihapus walaupun dicuci.

Kapur jahit juga banyak pilihan warnanya, pilih warna yang berbeda dengan warna kain.

Pemilihan alat penanda ini disesuaikan dengan jenis bahannya, seperti tenunan berat/tebal, tenunan tipis/ringan, bahan tembus pandang, dan sebagainya.

Berikut adalah alat penanda serta cara pemindahan tanda-tanda pola :

  • Memindahkan tanda dengan rader dan karbon jahit
  • Menggunakan kapur jahit dan pensil kapur
  • Memakai lilin jahit
  • Memakai tusuk jelujur.

 

Memindahkan tanda dengan rader dan karbon jahit

Rader bergigi digunakan untuk kain yang berat dan tebal serta sedang dan rader yang licin (tanpa gigi) untuk bahan dengan tenunan tipis (ringan) sampai sedang. Sebaiknya ketika menggunakan rader meja kerja diberi alas (karton) agar meja tidak rusak oleh tekanan rader.

Pemakaian rader dikombinasikan dengan karbon jahit yang mana cara pemakaiannya adalah, bila bahan bagian baik keluar, karbon dilipat dua bagian yang memberi efek bekasnya diluar diletakkan diantara dua bahan atau bagian buruk bahan, dan jika bagian baik ke dalam karbon dilipat kedalam kemudian diapitkan pada bahan, lalu dirader pada batas kampuh atau garis kupnat dan sebagainya, jangan ditekan terlalu keras, cukup asal memberi bekas, bila sudah selesai dirader barulah pola dilepas dari kain bagian buruk bahan berhadapan dan karbon jahit diletakkan di antaranya, sehingga setelah ditekan dengan rader akan meninggalkan bekas rader pada kedua bagian buruk bahan.

Jika melipat bahan yang bagian buruk di dalam atau bagian baik bahan berhadapan, maka karbon diletakkan masing-masing pada bagian buruk bahan (karban dilipatkan). Warna karbon dipilih yang dekat atau bertingkat dengan warna bahan agar tidak memberi bekas yang tajam.

Menggunakan kapur jahit dan pensil kapur

Penggunaan kapur jahit sebagai pemindahan tanda-tanda pola apabila tidak dapat diberi tanda dengan karbon, misalnya bahan tebal seperti wool, atau bila pembuatan pola langsung di atas bahan. Penggunaan dengan pensil kapur garisnya akan lebih halus dan rapi.

Memakai lilin jahit

Memberi tanda-tanda dengan lilin pada bagian dalam bahan pakaian, lilin jahit tidak hilang waktu dicuci dan atau disetrika, jadi dipakai seperlunya. Lilin jahit juga ada yang berwarna selain warna putih. Lilin jahit dapat diganti dengan sisa sabun mandi.

Memakai tusuk jelujur.

Tusuk jelujur digunakan untuk memberi tanda pada bahan yang halus, seperti sutra. Hal ini dilakukan agar bahan tetap bersih. Caranya adalah pada garis pola dijahit dengan teknik jelujur, ketika menjahit dengan mesin, jahit jelujur inilah yang dipedomani.

Dari semua cara di atas yang banyak dipakai untuk memberi tanda adalah menggunakan rader dengan karbon jahit dan kapur jahit, karena ini lebih praktis dan tidak terlalu banyak noda asal sesuai dengan cara pemakaian yang benar.

 

Baca juga artikel lain tentang cutting:

 

 

Sumber referensi:

  • Ernawati, dkk., Tata Busana SMK Jilid 3, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional, 2008

1 komentar untuk “Cutting (Memotong)”

  1. Pingback: Teknik Memotong Bahan - fesyendesign.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.