belajar desain

Desain Fungsional, Struktural, dan Hiasan

Desain berasal dari bahasa Inggris “Design” yang artinya rancangan.  Desain dapat diartikan sebagai rancangan yang merupakan susunan dari garis, bentuk, ukuran, warna, tekstur dan value dari suatu benda yang dibuat berdasarkan prinsip-prinsip desain.

Seorang desainer perlu memahami tiga aspek dalam desain busana yaitu:

Masing-masing aspek memiliki nilai atau peran yang sama. Adalah tanggung jawab desainer untuk menciptakan pakaian yang berfungsi, nyaman dipakai, dan menyenangkan bahkan bisa membuat bangga saat dikenakan. Pakaian yang mewakili desain menarik yang dibuat dari bahan berkualitas yang nyaman untuk bergerak, dan dijahit dengan jahitan berkualitas, itulah yang kebanyakan orang inginkan.

 

 

Desain Fungsional


Desain fungsional mengacu pada bagaimana pakaian itu bekerja secara fisik atau fungsinya terhadap tubuh. Ini adalah aspek penting yang perlu diperhatikan oleh perancang/desainer. Pakaian harus berfungsi sesuai tujuan pembuatannya (contoh seragam polisi atau pemadam kebakaran, gaun pesta, pakaian renang, dan lain-lain).

  • Pakaian hendaknya nyaman dipakai di badan, dibuat dari bahan kain yang sesuai dengan fungsinya.
  • Pakaian harus menyediakan kelonggaran yang memadai untuk pergerakan namun tetap mempertahankan bentuknya.
  • Pakaian harus dibuat dengan kain yang sesuai jenis dan berat yang disesuaikan dengan style dan menjadikan
    perlindungan/proteksi, kehangatan atau kesejukan.

Bagaimana pakaian bekerja secara fungsional atau fisikal adalah aspek perancangan dan tanggung jawab seorang perancang/desainer. Pelanggan/customer tidak menghendaki sesuatu yang ribet atau menyusahkan terkait mengenakan pakaian. Jika pakaian yang dicoba (fitting) tidak nyaman, susah dicopot/lepas atau terlalu ketat dan sebagainya, maka besar kemungkinan mereka akan meninggalkannya dan mencari merek lain.

Berikut adalah beberapa tips praktis yang berkaitan dengan desain fungsional yang desainer perlu perhatikan dalam mendesain pakaian:

  • Bukaan (closure and opening) pakaian harus berfungsi dan bekerja secara sederhana dan efisien. Lubang kancing harus pas nyaman di atas kancing, tidak terlalu ketat atau terlalu longgar. Kancing snap (snap closure) dapat menutup dengan baik dan kuat.
  • Bukaan leher harus cukup besar pada kain tenun atau rajut sehingga mudah saat dipakai melewati kepala tanpa takut rambutnya jadi berantakan, atau leher terasa tercekik karena terlalu ketat.
  • Belahan (vent) rok harus cukup panjang untuk memungkinkan seseorang dapat berjalan dengan mudah. Demikian pula belahan pada jas atau kemeja sehingga nyaman ketika duduk.
  • Saku/kantong perlu dirancang dimana tangan dapat masuk dengan nyaman. Ukuran saku harus cukup untuk tangan bisa rileks di dalamnya, dan atau memegang kunci atau uang.
  • Korset tanpa tali harus dibuat dengan underlining dan boning sehingga tidak akan melorot saat pemakainya bergerak aktif semisal berdansa dan sebagainya. Ritsleting diperlukan hingga 7 inci di bawah lingkar pinggang untuk bukaan yang memudahkan dalam memakai dan melepasnya dengan nyaman.

 

Kenyamanan

Kenyamanan adalah tentang bagaimana perasaan atau rasa saat pakaian itu dikenakan. Pelanggan atau customer harus merasa nyaman dimana gerakannya tidak terhalangi/terbatasi saat duduk, berjalan, melompat, berlari, dan atau berjongkok. Untuk mendapatkan kenyamanan dan kemudahan dalam pergerakan saat berpakaian, lebihan (ease) dimasukkan ke dalam pakaian di tahap pembuatan pola. “Ease” adalah lebihan kain yang bisa dicubit dari pakaian. Sejumlah “lebihan” yang berbeda akan ditambahkan tergantung pada style, siluet, dan jenis kain. Beberapa memiliki penambahan “ease” lebih banyak daripada yang lain, kelompok usia target pelanggan juga menentukan seberapa banyak “lebihan” yang digunakan. Sebagai contoh, gaun strapless/korset tidak memiliki “lebihan”, karena harus pas erat ke tubuh. Sedangkan jas hujan membutuhkan kain berlebih dimana dipakaikan di atas pakaian lain (rangkap).

 

Pilihan kain sesuai fungsi pakaian

Contoh hal-hal yang harus dipertimbangkan terkait pemilihan kain berdasarkan fungsi pakaian:

  • Jas hujan dirancang untuk menahan air hujan; oleh karena itu, kain harus tahan air atau anti air (atau keduanya). Potongan mantel harus cukup besar dan cukup panjang untuk dikenakan di atas pakaian lain (rangkap) dengan leher yang cukup tinggi untuk menahan air hujan sampai masuk lewat bukaan leher, ini adalah contoh desain fungsional.
  • Mantel musim dingin perlu dibuat dari bahan kain yang bisa membuat pemakainya tetap hangat dan melindungi tubuh dari dingin; kain seperti wol, kasmir, bulu, atau kulit adalah pilihan ideal. Mantel dengan lapisan (lining) juga dapat menambah hangat pemakai.
  • Jaket musim panas harus dibuat dari bahan yang dapat menyerap keringat yang membuat pemakainya tetap sejuk. Serat alami seperti katun, linen, atau sutra adalah pilihan yang ideal.
  • Pakaian bisnis/kerja atau pakaian untuk bepergian biasanya memerlukan kain dengan serat sintetis yang tidak mudah kusut sehingga akan selalu terlihat rapi.
  • Untuk pakaian olahraga kain harus dapat meregang/mulur baik melebar dan memanjang agar dapat bergerak mengikuti badan saat seseorang berenang, berlari, atau melompat. Untuk olahraga diperlukan bahan yang ringan, panas dan kelembaban dapat dijaga, stabil saat basah, permeabilitas udara dan uap air yang baik, penyerapan air rendah, cepat kering (untuk mencegah rasa dingin), tahan lama, mudah dirawat, dan lembut atau nyaman saat disentuh.

Pada pakaian renang, pelanggan menginginkan fungsionalitas pakaian renang, jadi harus memilih kain rajut dengan spandeks tinggi. Spandeks adalah serat elastis yang sering dicampur dengan benang lain menghasilkan kombinasi tertentu seperti nilon/spandeks, katun/spandeks, dan poliester/katun/spandeks. Spandeks memberikan sifat kain peregangan dan pemulihan yang sangat baik sehingga garmen mempertahankan bentuknya dan tidak mudah melorot. Pakaian renang biasanya dibuat dari nilon/spandeks agar dapat memeluk tubuh, cepat kering, cukup fleksibel untuk bergerak, dan mempertahankan bentuknya. Pakaian yang dibuat dari bahan spandeks tidak memerlukan ritsleting; Namun perlu dijahit dengan jahitan yang mulur (stretch seams).

Meskipun pakaian renang terbuat dari bahan spandeks, elastik juga perlu diterapkan pada tepi pakaian agar tetap menempel dan melekat di tubuh. “Spandeks tidak hanya terbatas untuk digunakan pada kain rajut; ini juga dapat ditambahkan ke kain tenun. Misalnya, jaket, celana, dan rok dapat dibuat dari wol/spandeks. Jumlah spandeks tidak ditambahkan dalam persentase yang sama seperti pada pakaian renang, tetapi jumlah minimal akan menawarkan kenyamanan ekstra saat mengenakan pakaian ini.

 

 

Desain Struktural


Aspek kedua yang perlu diperhatikan oleh perancang adalah desain struktural. Desain struktural mengacu pada semua garis jahitan (seam line) yang dijahit untuk menyatukan pakaian. Ini juga mengacu pada benang yang digunakan untuk menjahit.

Desain struktural adalah rancangan suatu benda yang terdiri dari unsur-unsur desain, bisa disebut juga siluet atau garis terluar suatu desain.

Area pertama dan terpenting dari desain struktural, yang diperlukan untuk melewati kontrol kualitas, adalah memiliki jahitan jahitan permanen yang berkualitas. Sejumlah jahitan per inci dengan kuat menahan sambungan bersama-sama. Terlalu sedikit jahitan tidak akan menahan jahitan dengan baik; terlalu banyak jahitan dapat membuat kain menjadi kerut. Pakaian yang terbuat dari bahan mulur (stretch) perlu dijahit dengan jahitan yang meregang (stretch stitches) agar jahitannya bisa melar saat dipakai.

Kancing adalah contoh lain; perlu dijahit untuk menutup/mengancing bukaan menggunakan benang berkualitas dengan jahitan yang cukup untuk menahan kancing secara permanen ke pakaian sehingga tidak jatuh.

 

 

Desain Dekoratif (Hiasan)


Desain dekoratif mengacu pada penambahan dekoratif pada permukaan kain. Desain dekoratif merupakan aspek penting dari desain karena pada akhirnya dapat menarik pelanggan untuk membeli garmen, detail khusus yang membedakan satu garmen dengan garmen lainnya.

Bordir, renda, pita, gesper, dan kancing hanyalah beberapa dari banyak item yang dapat digunakan untuk desain dekoratif. Memilih, barang dekoratif yang tepat membutuhkan waktu dan kesabaran. Desain dekoratif juga dapat mencakup warna kain yang cerah (menarik perhatian) atau tekstur kain, cetakan/print, atau pola.

Desain hiasan fungsinya memperindah desain strukturnya, misalnya desain hiasan yang terdapat pada taplak meja, dan sebagainya.

Syarat desain hiasan:

  • Hiasan harus dipergunakan secara terbatas atau tidak berlebihan.
  • Letak hiasan harus disesuaikan dengan bentuk strukturnya.
  • Cukup ruang untuk latar belakang, yang memberikan efek kesederhanaan dan keindahan terhadap desain tersebut.
  • Bentuk latar belakang harus dipelajari secara teliti dan sama indahnya dengan penempatan pola-pola pada benda tersebut.
  • Hiasan harus cocok dengan bahan desain strukturnya dan sesuai dengan cara pemeliharaannya.

1 komentar untuk “Desain Fungsional, Struktural, dan Hiasan”

  1. Pingback: Macam-macam Belahan Busana - fesyendesign.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *