Desain Hiasan Busana

Pengertian


Desain hiasan busana adalah suatu rancangan gambar yang nantinya akan diwujudkan dengan tujuan untuk memperindah suatu busana dengan menerapkan tehnik sulaman.

Desain hiasan busana merupakan desain terapan yang dapat diterapkan pada bermacam busana baik busana anak, dewasa, laki-laki maupun perempuan.

Desain yang baik akan memperlihatkan susunan teratur bahan-bahan yang dipergunakan dalam suatu karya yang indah.

Menurut Chotijah (1981 h.5) ada 2 macam desain yaitu:

  1. Desain struktur.
  2. Desain hiasan.

Desain stuktur (struktural design) ialah susunan garis, bentuk, warna dan tekstur dari suatu benda yang mempunyai ruang maupun gambaran dari suatu benda.

Desain hiasan (decorative design) adalah desain yang bertujuan untuk memperindah suatu benda.

 

Prinsip-prinsip Desain


Prinsip desain adalah tehnik penggunaan dan pengkombinasian unsur-unsur desain (garis, arah, bentuk, ukuran, tekstur, nilai gelap terang dan warna) menurut prosedur tertentu.

Adapun prinsip-prinsip desain tersebut meliputi:

  1. Harmoni
  2. Proporsi
  3. Keseimbangan
  4. Irama
  5. Aksen

Dalam pembuatan desain hiasan busana, pemahaman prinsip-prinsip desain sangatlah pokok untuk menunjang hasil kreatif yang menarik dan serasi.

 

Harmoni

Suatu susunan dikatakan harmoni jika semua obyek dalam suatu kelompok  tersebut memiliki persamaan atau keserasian.

Ada 5 aspek dalam prinsip harmoni:

  1. Harmoni dalam bentuk
  2. Harmoni dalam ukuran
  3. Harmoni dalam tekstur
  4. Harmoni dalam ide
  5. Harmoni dalam warna

Harmoni dalam bentuk

Beberapa garis yang dikombinasikan akan menghasilkan bentuk. Bentuk tersebut harmoni apabila menggunakan macam-macam garis yang penting yang terdiri dari pengulangan, kontras dan peralihan ukuran.

Suatu bentuk menjadi harmoni jika bentuk tersebut diletakkan pada tempat yang sesuai. Contoh: hiasan pada bentuk kerah yang melengkung, motif hiasannya melengkung pula.

 

Harmoni dalam ukuran

Ketidakserasian dan kejanggalan sering terlihat apabila ukuran yang digunakan relatif tidak sama. Agar desain hiasan tampak harmoni dalam ukuran haruslah disesuaikan dengan bidang yang dihias. Contoh: hiasan untuk busana anak berbeda ukuran dengan hiasan pada busana wanita dewasa, begitu pula hiasan yang terletak di dada akan berbeda besarnya dengan hiasan yang ada pada lengan. Desain hiasan yang kita peruntukkan bagi tubuh gemuk berbeda jika diterapkan pada tubuh kurus dan sebagainya.

 

Harmoni dalam tekstur

Untuk mengidentifikasi sifat atau tekstur permukaan suatu bahan dapat dilakukan dengan meraba untuk mengenali kasar atau lembut, kaku atau langsai, dan sebagainya. Kemudian secara visual bisa diketahui licin, kilau, atau kusam permukaan bahan suatu busana.

Hal ini perlu dipahami dalam hubungannya dengan bahan yang akan digunakan untuk menghias. Contoh: bahan busana satin diselesaikan dengan benang hias India, benang katun untuk bahan kasual.

 

Harmoni dalam ide

Harmoni dalam ide merupakan kesesuaian antara bahan yang akan dihias dengan pilihan hiasan yang akan diterapkan. Contoh: bahan busana sifon dengan ide hiasan sulaman bayangan, bahan busana berkotak dengan ide hiasan merubah corak dan sebagainya.

 

Harmoni dalam warna

Keserasian dalam pemilihan warna akan mendominasi penampilan busana yang kita buat. Oleh karenanya penguasaan teori warna sangat diperlukan. Banyak pendapat dari para ahli tentang teori warna.

Harmoni dalam warna dibagi lagi dalam beberapa kelompok:

  1. Menurut Kelompok warna
    • warna primer
    • warna sekunder
    • warna tersier
    • warna kuarter
  2.  Menurut sifat dan pengaruhnya
    • perasaan
    • daya tarik
    • besar kecilnya ukuran
    • jarak
  3.  Menurut kombinasinya
    • kombinasi warna bersesuaian
    • kombinasi warna kontras

 

Proporsi

Penerapan proporsi pada hiasan busana memerlukan beberapa pertimbangan yaitu:

  1. Bentuk tubuh / besarnya bidang
  2. Penerapan efek garis

Contoh:

  • bentuk tubuh gemuk penerapan motif membentuk efek garis memanjang/vertikal.
  • tubuh kurus penerapan motif membentuk efek garis melebar/horizontal ataupun efek garis diagonal.

 

Keseimbangan

Keseimbangan dipergunakan untuk memberikan perasan tenang dan stabil. Pengaruh ketenangan dan kestabilan ini dapat dicapai dengan pengelompokan bentuk, warna dan garis yang menimbulkan perhatian yang sama pada bagian kiri dan kanan dari titik pusat atau tengah.

Ada 3 jenis keseimbangan yaitu:

  1. Keseimbangan formal, yaitu apabila obyek bagian kiri dan bagian kanan dari garis tengah suatu desain jaraknya sama.
  2. Keseimbangan informal (occult), yaitu beberapa obyek yang sama dan tidak serupa diletakkan pada jarak yang berbeda dari pusat.
  3. Keseimbangan obvicus, yaitu obyek/motif bagian kiri dan bagian kanan tidak sama tetapi memiliki daya tarik yang sama.

 

Irama

Irama dapat diartikan sebagai suatu bentuk pergerakan. Namun tidak semua bentuk pergerakan dalam desain disebut irama.

Empat cara pencapaian bentuk irama adalah sebagai berikut:

  1. pengulangan bentuk
  2. peralihan ukuran
  3. pergerakan garis yang tak putus
  4. radiasi

Pengulangan bentuk

Proporsi yang baik perlu disertai dengan pengulangan bentuk agar menghasilkan sesuatu yang indah. Hal ini dapat dilakukan secara monoton atau bervariasi. Contoh:

  • motif hiasan berserak
  • hiasan pinggiran.

Peralihan ukuran

Peralihan ukuran dapat dilakukan secara monoton maupun bervariasi. Hal ini tergantung pada bagian busana yang akan dihias. Contoh:

  • hiasan terletak di bagian dada berbeda ukurannya dengan yang terletak di lengan.
  • hiasan pada sisi badan akan berbeda ukuran dengan yang terletak pada saku

Pergerakan garis yang tak putus

Adalah pergerakan motif hiasan yang membentuk efek garis yang tidak putus, dapat berupa garis lurus, lengkung, atau alur motif. Contoh:

  • motif pada “garis leher” ke “tengah muka” hingga bagian bawah kebaya yang tidak putus.
  • berupa teknik hiasan melekatkan benang, pita atau pita biku.

Radiasi

Merupakan pergerakan yang memancar dari satu titik/sumber. Contoh:

  • motif memancar dari garis leher.
  • motif memancar dari pinggang

 

Aksen

Aksen dapat disebut juga pusat perhatian, emphasis atau center of interest. Aksen merupakan pusat perhatian dalam satu susunan yang utuh.

Aksen dapat diperoleh lewat pemakaian warna, motif, garis, hiasan, maupun ukuran yang kontras. Penempatan aksen hiasan pada busana sangatlah perlu agar busana memiliki daya tarik tersendiri, dalam satu busana cukup satu point interest saja.

Aksen pada busana dapat digunakan untuk menyiasati kekurangan dari si pemakai. Contoh:

  • untuk leher yang pendek pindahkan pusat perhatian dengan menempatkan motif hiasan pada “tengah muka” blus.
  • untuk bentuk tubuh bagian atas besar, tempatkan pusat perhatian pada ujung gaun.

 

Sumber dan referensi:

  • DESAIN HIASAN BUSANA, SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BIDANG KEAHLIAN TATA BUSANA PROGRAM KEAHLIAN TATA BUSANA, DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUANN DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL, 2005

 

1 komentar untuk “Desain Hiasan Busana”

  1. Ping-kembali: MENGHIAS BUSANA - fesyendesign.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *