Kualitas Dalam Industri

Pengertian Kualitas


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kualitas/quality/mutu adalah (ukuran) baik buruk suatu benda; kadar; taraf atau derajat (kepandaian, kecerdasan, dan sebagainya).

Arti atau pun tafsiran tentang kualitas dalam bisnis (usaha) terus berkembang dari waktu ke waktu. Berikut contoh tafsiran kualitas oleh beberapa pakar:

  • Philip B. Crosby; kualitas adalah “kesesuaian dengan persyaratan.” Persyaratan mungkin tidak sepenuhnya mewakili harapan pelanggan; Crosby memberlakukan ini sebagai masalah tersendiri.
  • W. Edwards Deming; kualitas adalah apa yang diharapkan oleh pasar dan efisiensi pada proses produksi. Melakukan manajemen yang baik dari desain, engineering, pengujian, dan proses untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas dengan biaya yang bisa ditekan.
  • Peter Drucker; “kualitas suatu produk atau layanan bukanlah apa yang supplier berikan, tetapi apa yang customer dapatkan dan bersedia untuk membayar.
  • ISO 9000: “kualitas adalah tingkat pemenuhan suatu standar yang dipersyaratkan yaitu karakter khas yang melekat yang diharapkan atau dibutuhkan.
  • Joseph M. Juran; kualitas adalah “fitness for use” atau kesesuaian dalam penggunaan, atau kesesuaian menurut pelanggan.
  • Noriaki Kano dan lain-lain menyajikan model kualitas dua dimensi yaitu; “kualitas yang seharusnya” (yaitu kesesuaian dalam penggunaan) dan “kualitas atraktif” (apa yang akan disukai pelanggan atau bisa diringkas sebagai “produk dan layanan yang memenuhi atau melampaui harapan pelanggan”).
  • Six Sigma; “kualitas dapat diartikan sebagai “jumlah cacat per sejuta peluang.”
  • Gerald M. Weinberg: kualitas adalah “nilai bagi seseorang”.

Dalam bisnis, engineering, dan manufaktur, kualitas – atau kualitas tinggi – memiliki interpretasi pragmatis sebagai non-inferioritas atau superioritas atas sesuatu;  juga didefinisikan sebagai kesesuaian dengan yang dimaksudkan (sesuai dengan tujuan) dan memuaskan harapan pelanggan.  Kualitas adalah atribut persepsi, kondisional, dan agak subjektif dan dapat dipahami secara berbeda oleh orang yang berbeda. Konsumen mungkin berfokus pada kualitas spesifikasi produk/layanan, atau bagaimana produk/layanan tersebut dibandingkan dengan pesaing di pasar.  Produsen seharusnya dapat mengukur kesesuaian kualitas, atau sejauh mana produk/layanan diproduksi dengan benar.

Dalam ISO 8402 (Quality Vocabulary), kualitas didefinisikan sebagai totalitas dari karateristik suatu produk yang menunjang kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dispesifikasikan atau ditetapkan. Kualitas seringkali diartikan sebagai kepuasan pelanggan atau konformansi terhadap kebutuhan atau persyaratan. Sedangkan produk menurut ISO 8402 diartikan sebagai hasil dari aktivitas atau proses. Suatu produk dapat berbentuk, tak berbentuk, atau campuran antara keduanya. Dengan definisi ini produk bisa diidentifikasikan dalam tiga kategori, yaitu:

  1. Barang (goods), seperti: ban, cat, mobil, motor, pakaian, dll
  2. Perangkat lunak (software), seperti: program komputer,
    laporan keuangan, dll
  3. Jasa (service), seperti: konstruksi, pendidikan, pelatihan, dll

Hanya saja menurut gaspersz (2002), para manajemen dari perusahaan yang berkompetisi dalam pasar global harus memberikan perhatian yang serius pada definisi strategis, yang menyatakan bahwa kualitas adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan.

Mengacu pada pengertian tentang kualitas baik yang konvesional maupun yang lebih strategis, bisa disimpulkan bahwa pada dasarnya kualitas mengarah pada pengertian pokok berikut:

  • kualitas terdiri dari sejumlah keistimewaan produk, baik keistimewaan langsung maupun attraktif yang memenuhi keinginan pelanggan dan dengan demikian memberikan kepuasan atas penggunaan produk tersebut.
  • kualitas terdiri dari segala sesuatu yang bebas dari kekurangan atau kerusakan.(Gaspersz, 2002)

Dengan demikian produk-produk didesain, diproduksi, serta pelayanan diberikan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Artinya suatu produk dikatakan berkualitas apabila telah memenuhi keinginan pelanggan, dapat dimanfaatkan dengan baik, serta dibuat dengan cara yang baik dan benar.

Dalam manufaktur atau bisnis, aspek kunci dari kualitas/mutu berakar pada konsep manajemen mutu, yaitu:

  • Perencanaan (quality planning), “mengembangkan produk, sistem, dan proses yang diperlukan untuk memenuhi atau melampaui harapan pelanggan.” Mendefinisikan siapa pelanggan, menentukan kebutuhan mereka, dan mengembangkan alat (sistem, proses, dll) yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
  • Jaminan (quality assurance), sarana untuk memberikan keyakinan yang cukup bahwa persyaratan dan tujuan bisnis (seperti yang digariskan dalam perencanaan kualitas) suatu produk dan/atau layanan akan terpenuhi. Pencegahan terhadap kesalahan-kesalahan dilakukan melalui pengukuran sistematis, perbandingan dengan standar, dan pemantauan proses.
  • Pengendalian (quality control),  diimplementasikan sebagai sarana untuk memenuhi persyaratan mutu, meninjau semua faktor yang terlibat dalam produksi. Menegaskan bahwa barang atau jasa yang dihasilkan memenuhi tujuan organisasi, biasanya menggunakan tool seperti audit operasional dan inspeksi. Quality control berfokus pada output proses.
  • Peningkatan (quality improvement), menyediakan mekanisme untuk evaluasi dan peningkatan proses, dll. dalam hal efisiensi, efektivitas, dan fleksibilitasnya. Perubahan dapat dilakukan baik secara signifikan atau bertahap dan terus-menerus.

Manajemen mutu adalah upaya untuk memastikan suatu organisasi, produk, atau layanan menjadi konsisten.

Manajemen mutu tidak hanya fokus pada kualitas produk dan layanan, tetapi juga pada sarana untuk mencapainya. Dengan jaminan kualitas (quality assurance) dan pengendalian proses serta produk, digunakan untuk menggapai kualitas yang lebih konsisten.

Gagasan tentang managemen mutu dan prinsip-prinsipnya merupakan fenomena yang relatif baru meskipun ide tentang mutu/kualitas dalam bisnis bukanlah hal yang baru. Pada awal 1900-an, pionir seperti Frederick Winslow Taylor dan Henry Ford menyadari keterbatasan metode yang ada saat itu pada produksi massal dan kualitas output yang beragam, mereka menerapkan pengendalian mutu, inspeksi, dan prosedur standarisasi dalam pengerjaannya. Pada abad kedua puluh, orang-orang seperti William Edwards Deming dan Joseph M. Juran ikut membantu dalam usaha memprioritaskan peningkatkan mutu, awalnya di Jepang kemudian (pada akhir 70-an) berkembang secara global.

Kualitas adalah atribut penting dalam suatu produk dan layanan. Supplier atau produsen menyadari bahwa kualitas bisa menjadi nilai tawar yang tinggi untuk bisa bersaing dengan kompetitor. Hampir di banyak negara mereka telah meningkatkan standar kualitas mereka sendiri untuk memenuhi standar internasional dan permintaan pelanggan. Standar ISO 9000 merupakan standar internasional yang paling dikenal untuk manajemen mutu disamping standar khusus seperti ISO 15189 (untuk laboratorium medis) dan ISO 14001 (untuk manajemen lingkungan).

Manufaktur

Awal 1920-an para produsen dengan filosofi “maximum production” perlahan-lahan beralih filosofi yang lebih selaras dengan “kontrol kualitas positif dan berkelanjutan menuju standar tertentu di dalam manufaktur.”

Dipelopori oleh Deming dan Juran pada abad kedua puluh, standarisasi lebih lanjut menjadi lebih terintegrasi dalam operasional bisnis manufaktur saat ini. Pengenalan standar ISO 9001, 9002, dan 9003 pada tahun 1987 (berdasar standar militer Inggris dan AS sebelumnya) berusaha menyediakan organisasi untuk kebutuhan membuat sistem manajemen mutu (Quality Management System) dalam berbagai kegiatan bisnis yang berbeda.

Standar praktik manufaktur yang baik (Good Manufacturing Practice) menjadi umum di negara-negara di seluruh dunia, menetapkan persyaratan minimum yang harus dipenuhi produsen untuk memastikan produk mereka secara konsisten berkualitas, dalam industri termasuk makanan dan minuman, kosmetik, produk farmasi, suplemen makanan, peralatan medis dan tentunya juga industri tekstil dan garmen.

Filosofi peningkatan process seperti Six Sigma dan Lean Six Sigma telah jauh mendorong kualitas ke garis depan dalam manajemen bisnis dan operasi. Inti dari upaya ini dan yang lain adalah quality management system (QMS), dokumentasi proses, model manajemen, strategi bisnis, sumber daya manusia, dan teknologi informasi yang digunakan dalam perencanaan, pengembangan, mempersiapkan, mengevaluasi, dan meningkatkan serangkaian model, metode, dan alat di seluruh organisasi dengan tujuan meningkatkan kualitas yang selaras sesuai tujuan strategis organisasi.

Sektor Jasa/Layanan

Jika manufaktur berfokus pada “masalah yang lebih nyata terlihat dan lebih konsisten”, maka terdapat banyak aspek mutu dari output penyedia jasa yang tidak tentu dan hanya sepintas, meskipun tidak semuanya seperti itu. Kemudian hambatan yang lain adalah persepsi manajemen yang tidak sesuai dengan harapan pelanggan karena kurangnya komunikasi dan riset pasar, kurangnya tepat atau kurang maksimal dalam penyampaian pengetahuan yang berbasis keterampilan terhadap anggotanya.

Harapan pelanggan adalah kunci dalam industri baik manufaktur maupun jasa, sejauh mana layanan berinteraksi dengan pelanggan akan menciptakan persepsi kualitas suatu layanan. Persepsi dapat diandalkan, responsif, pengertian, kompeten, dan bersih (yang sulit dijelaskan secara nyata) mungkin dapat mengangkat kualitas layanan, dan ini sedikit berbeda dengan kualitas pada manufaktur.

Kualitas adalah sesuatu yang harus dipenuhi bagi customer (pelanggan). Kegagalan mempertahankan standar kualitas yang memadai akan berdampak baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kelangsungan bisnis atau usaha. Akan tetapi mempertahankan standar kualitas yang memadai juga membutuhkan biaya dan usaha yang tidak mudah. Mulai dari memahami apa yang benar-benar diinginkan pelanggan potensial untuk suatu produk baru, kemudian proses desain, spesifikasi, pembuatan dan penjualan yang terkontrol.

Konsep Kualitas


Secara tradisional, pengontrolan kualitas biasanya dilakukan para produsen hanya dengan melakukan inspeksi terhadap produk ketika produk tersebut telah selesai dibuat. Cara yang dijalankan adalah menyortir produk dengan memisahkan antara yang baik dan yang buruk. Kemudian melakukan perbaikan pada produk-produk yang cacat. Pandangan ini lebih berfokus kepada aktivitas inspeksi untuk mencegah produk-produk yang cacat ke pasaran. Kekurangan pandangan tradisional ini adalah tidak memberikan perhatian penuh pada peningkatan kualitas secara berkesinambungan.

Pengertian modern dari konsep kualitas adalah membangun sistem kualitas modern. Pada dasarnya, sistem kualitas modern dapat dicirikan lima karateristik, yaitu:

  1. Sistem kualitas modern berorientasi pada pelanggan.
  2. Sistem kualitas modern dicirikan oleh adanya partisipasi aktif yang dipimpin oleh manajemen puncak dalam proses peningkatan kualitas secara terus menerus.
  3. Sistem kualitas modern dicirikan oleh adanya pemahaman dari setiap orang terhadap tanggung jawab spesifik untuk kualitas.
  4. Sistem kualitas modern dicirikan oleh adanya aktivitas yang berorientasi pada tindakan pencegahan kerusakan, bukan berfokus pada upaya untuk mendeteksi kerusakan saja.
  5. Sistem kualitas modern dicirikan oleh adanya suatu filosofi yang menganggap bahwa kualitas merupakan “jalan hidup” (way of life).

Secara cermatnya perbandingan tentang konsep kualitas secara tradisional dan modern berikut tingkat performansi yang dijadikan indikator kualitas seperti tampak dalam tabel berikut ini:

Tabel Pandangan Tradisional dan Modern Tentang Kualitas

Pandangan Tradisional Pandangan Modern
Memandang kualitas sebagai isu
teknis.
Memandang kualitas sebagai isu
bisnis.
Usaha perbaikan kualitas
dikoordinasikan oleh manajer kualita.
Usaha perbaikan kualitas diarahkan
oleh manajemen puncak.
Memfokuskan kualitas pada fungsi
atau departemen produksi.
Kualitas mencakup semua fungsi atau
departemen dalam organisasi.
Produktivitas dan kualitas merupakan
sasaran yang bertentangan.
Produktivitas dan kualitas merupakan
sasaran yang bersesuaian, karena
hasil-hasil produktivitas dicapai
melalui peningkatan atau perbaikan
kualitas.
Kualitas didefinisikan sebagai
konformansi (conformance) terhadap
spesifikasi atau standar.
Membandingkan produk terhadap
spesifikasi.
Kualitas secara tepat didefinisikan
sebagai persyaratan untuk memuaskan
kebutuhan pengguna produk atau
pelanggan (costumers).
Membandingkan produk terhadap
kompetisi dan terhadap produk terbaik
dipasar.
Kualitas diukur melalui derajat
nonkonformansi (nonkonformansi),
menggunakan ukuran-ukuran kualitas
internal.
Kualitas diukur melalui perbaikan
proses/ produk dan kepuasan
pengguna produk atau pelanggan
secara terus-menerus, dengan
menggunakan ukuran-ukuran kualitas
berdasarkan pelanggan.
Kualitas dicapai melalui inspeksi
secara intensif terhadap produk.
Kualitas ditentukan melalui desain
produk dan dicapai melalui teknik
pengendalian yang efektif, serta
memberikan kepuasan selama masa
pakai produk
Beberapa kerusakan atau cacat  diijinkan, jika produk telah memenuhi
standar kualitas minimum.
Cacat atau kerusakan dicegah sejak awal melalui teknik pengendalian
proses yang efektif
Kualitas adalah fungsi terpisah dan
berfokus pada evaluasi produksi.
Kualitas adalah bagian dari setiap
fungsi dalam semua tahap dari siklus hidup produk.
Pekerja dipermalukan apabila
menghasilkan kualitas jelek.
Manajemen bertanggung jawab untuk kualitas.
Hubungan dengan pemasok bersifat jangka pendek dan berorientasi pada biaya. Hubungan dengan pemasok bersifat jangka panjang dan berorientasi pada kualitas.

(Sumber: Total Quality Management, Vincent Gaspersz, 2002)

Tabel Tingkat Performansi Terhadap Kualitas Berdasarkan Pandangan Tradisional dan Modern

Item Pandangan Tradisional Pandangan Modern
Kualitas
  1. Ukuran berdasarkan bagian perseratus (persen).
  2. Jika produk tidak rusak tidak perlu memperbaikinya.
  3. Inspeksi sama dengan kualitas.
  1. Ukuran berdasarkan bagian persejuta (parts per million = ppm).
  2. Perbaikan produk/ proses secara terus-menerus.
  3. Manajemen kualitas terpadu.
Keterlibatan
Karyawan
  1. Sistem saran secara pasif.
  2. strategi menang-kalah.
  3. Paling banyak satu perbaikan per karyawan per tahun.
  1. Tim kualitas proaktif.
  2. Strategi menang-menang.
  3. Selusin atau lebih perbaikan per karyawan pertahun.
Fokus Keuntungan jangka pendek. Keuntungan jangka panjang.

(Sumber: Total Quality Management, Vincent Gaspersz, 2002)

Referensi:

  • Wikipedia.org
  • eprints.undip.ac.id
  • Dll.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *