Parameter Setik dan Jahitan

Performa jahitan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kualitas pakaian. Jahitan pada pakaian dituntut kuat dan halus. Jenis setikan (stitches) dan jahitan (seams) harus dipilih sesuai dengan jenis pakaian dan kain yang akan digunakan.

Penampilan dan performa jahitan akan bergantung pada:

  • jenis jahitan dan setikan,
  • parameter jahitan dan setikan,
  • defect atau kesalahan dan kerusakan jahitan,
  • sifat struktural dan mekanis kain,
  • kekuatan,
  • ekstesibilitas,
  • keamanan,
  • ketahanan,
  • tampilan, dan
  • efisiensi jahitan.

 

 

Parameter setik dan jahitan


1. Kerapatan Setik (Stitch Density – SPI)

Kerapatan setikan diukur dengan jumlah setikan atau tusukan jahit per satuan panjang (biasanya stitches per inch – SPI) pada satu baris jahitan. SPI yang lebih tinggi menunjukkan jahitan lebih rapat dan umumnya kualitas jahitan lebih baik. Makin banyak benang yang digunakan dalam sebuah jahitan, maka relatif makin kuat jahitan tersebut.

  • 6–8 SPI menghasilkan jahitan lebih sederhana, cocok untuk benang tebal atau kain perca utilitarian.
  • 10–12 SPI dianggap normal untuk sebagian besar gaya jahit dan menghasilkan kualitas jahitan terbaik.
  • Panjang jahitan yang lebih panjang menyebabkan jarum lebih mudah bengkok dan meningkatkan perubahan tegangan benang. Panjang jahitan rata-rata adalah 2.5 mm (setingan umum pada mesin jahit). Setara dengan 10–12 SPI.

 

2. Lebar Setik (Stitch Width)

Lebar setik mengacu pada jarak antara jarum dan tepi luar setik. Dengan kata lain, seberapa jauh jarum bergerak dari sisi ke sisi saat menjahit. Pengaturan ini biasanya digunakan saat menjahit jahitan zig-zag atau jahitan dekoratif yang membutuhkan pola jahitan lebih lebar.

Lebar setikan adalah jarak antara garis benang terluar pada jahitan.

  • Setikan lurus seperti lockstitch memiliki panjang namun tidak memiliki lebar. Standarnya adalah panjang setik 2.5 mm dan lebar 0 mm.
  • Jahitan zig-zag atau overlock memiliki panjang dan lebar. Kisaran menengah untuk panjang jahitan zig-zag adalah 2.5 mm dan lebar jahitan 3 atau 4 mm.
  • Jahitan dekoratif juga memiliki panjang dan lebar.

 

3. Jarak Jahitan (Seam Allowance)
Jarak jahitan adalah area antara tepi kain dan garis jahitan pada dua atau lebih potongan kain yang dijahit menjadi satu.
Jarak jahitan bisa bervariasi dari 6.4 mm (¼ inch) hingga beberapa centimeter.
Pola, desain, atau kebutuhan kain untuk pakaian menentukan jarak jahitan yang akan digunakan.

  • 1.5 cm (⅝ inch) umumnya dianggap sebagai jarak jahitan standar.
  • Untuk area lengkung seperti leher atau lubang lengan, jarak jahitan mungkin hanya ¼ inch.
  • Untuk area yang membutuhkan kain ekstra untuk penyesuaian akhir pemakai, jarak jahitan bisa mencapai 1 inch atau lebih.
seam allowance (source: wikipedia.org)

 

4. Panjang Setik (Stitch Length)

Panjang setikan mempengaruhi kerapatan jahitan dan kekuatan jahitan pada pakaian.

  • Kisaran panjang setik pada kebanyakan mesin jahit adalah antara 0 hingga 5 mm.
  • Rata-rata panjang setikan adalah 2.5 mm. Setara dengan 10–12 setik per inch.
  • Semakin panjang setikan, semakin rendah kerapatan setikan (SPI).
  • Mesin jahit menunjukkan panjang setikan dalam milimeter. Misalnya, setikan sepanjang 2.5 mm berarti setiap setikan memiliki panjang 2.5 mm.
  • Panjang setikan yang pendek akan lebih rapat per cm-nya, menghasilkan jahitan yang lebih kuat.
  • Panjang setikan yang panjang akan lebih jarang per cm, sehingga jahitan lebih longgar.
  • Setikan panjang menahan kain dengan tegangan yang lebih rendah. Jahitan ini lebih cocok untuk kain tebal atau beberapa lapis kain.

 

5. Elastisitas dan ekstensibilitas jahitan

Elastisitas jahitan (seam elasticity) merujuk pada kemampuan suatu jahitan yang dijahit untuk menahan deformasi dan kembali ke ukuran dan bentuk aslinya setelah pengaruh yang menyebabkan deformasi tersebut dihilangkan. Ini menggambarkan seberapa baik sebuah jahitan dapat meregang dan kemudian memulihkan bentuk aslinya. Elastisitas ini terutama penting ketika jahitan tersebut ditarik atau diregangkan, terutama dalam arah longitudinal.

Regangan longitudinal adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan peningkatan panjang per unit panjang awal dari sebuah jahitan akibat gaya atau tekanan eksternal yang diterapkan padanya. Ini mengukur seberapa besar jahitan meregang ketika dikenakan tegangan.

Selain elastisitas, ekstensibilitas (seam extensibility) juga merupakan faktor penting dalam kualitas jahitan. Ekstensibilitas merujuk pada kemampuan suatu jahitan untuk meregang di bawah beban yang meningkat. Ini menunjukkan seberapa besar sebuah jahitan yang dijahit dapat ditarik tanpa robek atau pecah.

Secara bersama-sama, elastisitas dan ekstensibilitas jahitan adalah pertimbangan utama dalam menentukan kualitas dan daya tahan suatu jahitan yang dijahit. Sebuah jahitan yang dapat meregang dan kembali ke bentuk aslinya tanpa kerusakan dibutuhkan untuk pakaian dan produk tekstil lainnya, karena menjamin kenyamanan, ketepatan, dan umur pakai yang lebih lama.

Dengan semakin marak penggunaan kain elastis atau mulur pada pakaian, maka kelenturan jahitan atau ekstensibilitas jahitan menjadi semakin penting dalam beberapa tahun terakhir.

Ekstensibilitas jahitan pada kain didefinisikan sebagai perbedaan panjang jahitan jahitan awal (panjang jahitan sebelum kain diregangkan) dengan panjang jahitan setelah diregangkan.

Seam extensibility = (Slim – S) / S

keterangan:

  • S: Panjang jahitan awal.
  • Slim: Panjang jahitan setelah diregangkan.

Semakin elastis kain, maka semakin besar perbedaan antara panjang jahitan sebelum dan sesudah diregangkan (Slim – S).
Artinya, jahitan yang ideal pada kain elastis harus bisa ikut melar bersama kain tanpa mudah putus.

Ekstensibilitas jahitan yang baik harus bisa mengakomodasi elastisitas kain. Hal ini penting agar pakaian nyaman dipakai dan tidak mudah robek jahitannya. Untuk mencapai ekstensibilitas jahitan yang baik, perlu diperhatikan jenis kain, jenis jahitan, kerapatan jahitan, dan elastisitas benang jahit.

Sebagai pedoman untuk memastikan kualitas jahitan, dianggap bahwa jahitan harus dibangun sedemikian rupa sehingga sesuai dengan perilaku tarik produk yang dijahit, atau pakaian secara khusus. Dari sudut pandang praktis, ini berarti bahwa jahitan yang diproduksi sebagai elemen penghubung dari komponen produk yang dijahit (pakaian) harus memiliki elastisitas yang sama atau lebih tinggi (yaitu, kemampuan sebuah jahitan untuk kembali ke panjang dan ukuran aslinya ketika gaya yang menyebabkan deformasi dihilangkan) dan ekstensibilitas (kemampuan untuk ditarik atau meningkatkan panjang) daripada bahan yang dijahit di daerah jahitan: ɛs ≥ ɛm di mana ɛs adalah ekstensibilitas jahitan dan ɛm adalah ekstensibilitas bahan yang dijahit.

 

6. Kekuatan dan Efisiensi Jahitan (Seam Strength & Seam Efficiency)

Kekuatan jahitan penting untuk menjamin keawetan pakaian dan mencegah jahitan robek. Kebutuhan kekuatan jahitan berbeda-beda tergantung pada jenis pakaian.

Banyak faktor yang mempengaruhi kekuatan jahitan, antara lain:

  • Struktur dan sifat kain: Kain yang kuat membutuhkan jahitan yang kuat pula.
  • Letak tekanan pada pakaian: Area pakaian yang lebih sering menerima tekanan membutuhkan jahitan yang lebih kuat.
  • Jenis dan konstruksi benang jahit: Jenis benang dan cara pembuatannya mempengaruhi kekuatan jahitan.
  • Tension pada mesin jahit: Tension benang yang tepat saat menjahit akan menghasilkan jahitan yang kuat.
  • Jenis jarum jahit: Jenis jarum yang sesuai dengan kain dan jahitan akan menghasilkan jahitan yang lebih kuat.
  • Jenis setikan dan jahitan: Berbeda jenis setikan dan garis jahitan memiliki tingkat kekuatan yang berbeda.
  • Kerapatan jahitan (SPI): Semakin rapat jahitan (SPI tinggi), semakin kuat jahitan tersebut.

Standar pengujian kekuatan jahitan pada kain tenun diatur dalam ASTM D 1683-81 ‘Standard Test Method for Failure in Sewn Seams of Woven Apparel Fabrics’ . Pengujian ini dilakukan dengan memberikan tekanan tegak lurus pada jahitan kain tenun untuk mengukur kekuatannya.

Standar ASTM D1683 menjelaskan tentang uji untuk mengukur kekuatan jahitan pada kain tenun. Seam (jahitan) digunakan untuk menjahit dua potong kain yang berbeda menjadi satu kesatuan. Kebanyakan jahitan dibuat dengan mesin jahit setelah kain ditenun dan dipotong.

Uji ini membandingkan kekuatan kain tanpa jahitan dengan kain yang sudah dijahit (specimen jahitan). Kain tersebut ditarik dengan gaya tekan (mirip uji tarik) hingga putus.

  • Efisiensi jahitan 100% jika bagian kain tanpa jahitan yang putus terlebih dahulu, maka efisiensi jahitan dikatakan 100%. Artinya kekuatan jahitan sama kuatnya dengan kain aslinya.
  • Efisiensi jahitan 50% jika bagian jahitan yang putus terlebih dahulu pada separuh kekuatan tarik kain asli, maka efisiensi jahitan dikatakan 50%. Artinya kekuatan jahitan hanya setengah dari kekuatan kain asli.

Efisiensi jahitan dihitung dengan membagi kekuatan jahitan dengan kekuatan tarik maksimum dari bahan dasar kain tanpa jahitan. Hasilnya kemudian dinyatakan dalam bentuk persentase. Jika kain tanpa jahitan yang putus terlebih dahulu, maka efisiensi jahitan (dianggap) 100%

Efisiensi jahitan didefinisikan sebagai kemampuan material untuk menahan jahitan itu sendiri. Dengan kata lain, efisiensi jahitan menunjukkan seberapa kuat jahitan dibandingkan dengan kekuatan kain dasarnya.

Efisiensi Jahitan = 100 × (Kekuatan kain dijahit / Kekuatan kain tidak dijahit)

Keterangan:

  • Kekuatan kain dijahit: Kain yang telah dijahit dan diuji kekuatannya.
  • Kekuatan kain tidak dijahit: Kain sebelum dijahit dan diuji kekuatannya.

Semakin tinggi nilai efisiensi jahitan, semakin baik kualitas jahitan tersebut. Jahitan yang efisien dapat diperoleh dengan memperhatikan berbagai faktor yang mempengaruhi ketahanannya (durability), yaitu:

  • Struktur kain: Jenis dan kerapatan benang penyusun kain.
  • Jenis jahitan: Berbeda jenis jahitan memiliki tingkat efisiensi yang berbeda.
  • Jenis dan kerapatan setikan atau tusukan: Jenis tusukan jahit dan jumlah tusukan per cm (stitch density) mempengaruhi efisiensi.
  • Pemilihan benang jahit dan jarum: Jenis dan ukuran benang jahit serta jarum yang sesuai mempengaruhi efisiensi jahitan.

Efisiensi jahitan pada pakaian kebanyakan berada di kisaran 60% sampai 80%. Nilai efisiensi jahitan antara 80% sampai 90% lebih sulit didapatkan, terutama pada jahitan pakaian jadi. Nilai efisiensi jahitan yang rendah menunjukkan bahwa telah terjadi kerusakan jahitan saat proses menjahit. 

 

 

Sumber referensi:

  • https://www.intechopen.com/chapters/67275
  • dll

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *