Pengenalan Bahan Tekstil

Bahan Tekstil


Setiap kali Anda melihat kain, maka tidak akan lepas dari istilah tekstil. Apa yang dimaksud dengan bahan tekstil? Bahan tekstil adalah semua bahan yang berupa tenunan (woven) dan atau bukan tenunan (non woven) yang digunakan untuk membuat berbagai jenis busana dan lenan rumah tangga.

Bahan tekstil berdasarkan fungsinya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu sebagai:

Bahan utama adalah bahan yang paling banyak digunakan dalam pembuatan suatu busana atau lenan rumah tangga. Penampilan dan mutu suatu busana atau lenan rumah tangga sangat tergantung dari bahan utama ini. Dalam industri pertekstilan terdapat beraneka ragam bahan tekstil yang indah dan menarik. Bahan tekstil/kain ini telah melalui suatu proses yang panjang hingga sampai ke konsumen.

Bahan pelengkap/garnitur busana adalah semua jenis bahan yang digunakan untuk melengkapi suatu busana atau lenan rumah tangga. Berdasarkan fungsinya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu: fungsi untuk menyempurnakan dan fungsi untuk menghias dan pelengkap.

Fungsi untuk Menyempurnakan, contoh:

  • sebagai bahan pelapis,
  • pengisi, dan pembentuk antara rambut kuda,
  • spons,
  • fliselin dan
  • bantal bahu.

 

Fungsi sebagai Penghias dan Pelengkap, contoh:

  • Macam-Macam Kancing
  • Macam-Macam Pita
  • Macam-Macam Renda
  • Macam-Macam Benang
  • Macam-Macam Bahan Aplikasi

 

Serat Tekstil


Kain atau bahan tekstil dibuat dari serat tekstil yang dipintal menjadi benang kemudian ditenun (woven) atau dirajut (knitting) menjadi lembaran kain. Ada juga yang langsung dari serat menjadi kain tanpa ditenun (non woven) atau dirajut.

 

Penggolongan Serat Tekstil

Serat tekstil digolongkan berdasarkan jenis serat, yaitu: serat alam dan serat buatan.

Serat alam telah lama dikenal, sedangkan serat buatan dikenal pada permulaan abad ke-19. Serat buatan mengalami perkembangan pesat dalam pengolahan dan penyempurnaan dari masa ke masa.

Kebanyakan konsumen di Indonesia menggunakan bahan tekstil dari serat campuran atau sintetis dengan alasan mudah pemeliharaannya, ringan serta murah.

Menurut asalnya serat tekstil dapat dibagi sebagaimana yang tersusun dalam bagan di bawah ini.

Bagan penggolongan serat alam
Bagan penggolongan serat buatan

Konstruksi Bahan Tekstil


Konstruksi suatu bahan tekstil akan menentukan berat jatuhnya bahan (drape), keawetan dan tekstur bahan. Metode dasar dari konstruksi bahan antara lain :

 

Tenunan (Woven)

Kalau Anda memperhatikan selembar kain tenun, maka Anda akan mengetahui arah panjang dan lebar kain, serta pinggir kain atau tepi kain. Jika diperhatikan maka ada susunan benang-benang yang sejajar searah dengan tepi kain dan benang-benang yang melintang.

Benang-benang yang sejajar pinggir kain disebut dengan Benang Lusi (warp yarn) atau lungsin. Sedangkan benang yang melintang disebut dengan Benang Pakan (weft yarn) atau benang isi. Benang lusi dan benang pakan saling menyilang satu sama lain.

Konstruksi tenun satin

Konstruksi tenunan dibedakan berdasarkan silang tenunan atau biasa disebut pattern tenun, yaitu

  • silang dasar dan
  • silang dasar yang divariasi.

Ada tiga macam silang dasar, yaitu:

  1. silang polos/tenun polos (plain weave),
  2. silang kepar/tenun keper (rib weave), dan
  3. silang satin/tenun satin (sateen weave).

Dalam perkembangannya ada bermacam silang tenunan tetapi pada dasarnya merupakan variasi dari ketiga silang dasar tersebut, kecuali untuk tenunan yang berpola (patterned).

Rajutan (Knitted)

Berbeda dengan kain tenun yang dibuat dengan menyilangkan dua macam benang yaitu benang lusi dan benang pakan, maka kain rajut pada dasarnya dibuat dengan cara membentuk sengkelit-sengkelit. Dari satu macam benang saja yang searah dengan lebar kain atau yang searah dengan panjang kain.

Apabila Anda mengamati selembar kain rajut, Anda akan melihat alur-alur pada kain itu baik ke arah panjang kain maupun ke arah lebar kain. Alur-alur ini terbentuk oleh rangkaian sengkelit.

Wale (Baris sengekelit) adalah satu deretan sengkelit ke arah panjang kain yang dalam pembuatannya dibentuk oleh sebuah jarum.

Course (deret sengkelit) adalah satu deretan sengkelit rajut ke arah lebar kain.

Konstruksi kain rajut berbeda dengan kain tenun, maka sifat-sifatnya pun berbeda pula. Kain rajut pada umumnya mulur dan daya elastisitasnya lebih tinggi daripada kain tenun, sehingga cocok untuk pakaian olah raga.

konstruksi rajut trikot

Konstruksi kain rajut antara lain :

  1. Kain Rajut Rata/Polos (Plain Single Jersey), adalah yang dikenal dengan pola-pola vertikal berbentuk “V” pada permukaan bahan, dan deretan-deretan horizontal dari setengah lingkaran pada bagian belakang. Rajutan ini mulur (stretch) pada arah horizontalnya.
  2. Kain Rajut Trikot (Triko), memiliki tekstur rib yang halus serta drape lembut dan seringkali digunakan untuk bahan pelapis (lining), pakaian sehari-hari (casual) dan pakaian dalam (lingerie).
  3. Kain Rajut Double (Double Knits), dirajut dengan dua jarum dan dua benang secara bersamaan sehingga permukaan depan dan belakang kain sama. Rajutannya stabil dan kuat, banyak memberikan keleluasaan dengan tidak mulur maupun kendur.

 

Anyaman

Anyaman bukanlah suatu hasil tenunan, tetapi dibuat dari satu susunan benang yang disilangkan miring dari kiri ke kanan dan kembali lagi. Anyaman ini bisa dikerjakan dengan tangan ataupun mesin.

Bahan anyaman bisa dibuat dari beragam bahan. Disarankan bahan itu pipih, tidak mudah putus dan lentur. Contohnya: kulit, benang, plastik, rafia, bambu, rotan, dan bahan alami yang lain, seperti rumput-rumputan, mendong, agel, enceng gondok yang sudah dikeringkan, pelepah pisang, akar wangi dan sebagainya.

contoh hasil anyaman (sumber : wikipedia.com)

Hasil dari anyaman bisa berupa tas dari kulit yang dianyam, anyaman kain, plastik, sepatu, rompi, atau garnitur busana dan pelengkap busana. Juga untuk lenan rumah seperti taplak meja, alat rumah tangga misalnya alat dapur, hiasan dinding, kerajinan tangan dan sebagainya.

Anyaman dapat dibuat dalam bentuk pipih atau bulat, misalnya veterband, tali sepatu dan ikat pinggang.

 

Buhul

Salah satu teknik membuat kain adalah membuat buhul atau simpul. Contoh dari buhul adalah macrame dan filet. Teknik macrame berasal dari Arab. Pada mulanya hanya berupa simpul-simpul yang sederhana, tetapi kemudian berkembang dengan variasi antara simpul-simpul tersebut dan menghasilkan motif yang bermacam-macam.

dekorasi macrame (sumber : wikipedia.com)

Buhul terdiri dari dua kali simpul, yang pertama disebut setengah buhul. Kedua, setengah buhul lagi yang menguatkan ikatan setengah buhul pertama sehingga tidak terlepas.

contoh buhul

Motif buhul bisa merupakan garis-garis horisontal, vertikal dan diagonal. Dari rangkaian buhul tersebut dapat dihasilkan bermacam-macam barang kerajinan dan aksesori busana, seperti tas, ikat pinggang, rompi (vest), syal/selendang dan sebagainya.

Kaitan

Teknik membuat kain yang lain adalah mengait dan hasilnya dinamakan crochet (kaitan). Kaitan dibuat dari benang kait, misalnya benang wol, benang akrilik, benang katun, benang nilon maupun jerami (raffia) dan lainnya.

Mengait menggunakan jarum kait (haak-pen/Belanda, Crochet needle/Inggris) dari ukuran kecil sampai besar, disesuaikan dengan benang yang dipergunakan. Jarum kait yang kecil (jarum bernomor kecil) dipakai benang yang kecil (halus). Benang yang besar menggunakan jarum kait yang besar (jarum bernomor besar).

Nomor jarum kait ukuran standar internasional adalah dari 0.60 sampai dengan 7.00. Contoh hasil kaitan ialah blus, vest (rompi), selendang, taplak meja, seprei, tas, topi, dan lainnya.

video proses kaitan (crochet)

Jenis kaitan antara lain:

    • Kaitan Biasa
    • Kaitan Tunisia
    • Kaitan Irish
    • Kaitan Amerika
    • Kaitan Renda

 

Renda

Yang dimaksud dengan renda di sini adalah kain renda (lace), yang dibuat dengan tangan ataupun dengan mesin. Dalam rumah tangga dipergunakan untuk taplak meja, tirai jendela, sebagai pakaian (dress/ gaun), pakaian dalam (lingerie), dan saputangan.

Corak kain renda dapat terdiri atas dua bagian yaitu bagian yang merupakan dasar dan bagian lainnya merupakan sekelompok motif-motif tertentu, misalnya motif bunga. Benang linen biasanya dapat dibuat renda yang nyata (dengan benang besar), yang dikerjakan dengan tangan atau mesin. Tetapi, benang kapas, rayon, nilon, atau sutra dibuat dengan mesin. Ada beberapa macam renda, antara lain filet, renda simpul (frivolite), dan tula (tulle).

Lihat artikel sejarah dan asal-usul kain renda

 

Bahan Tidak Ditenun (Non Woven)

Ada beberapa konstruksi bahan yang tidak dapat diklasifikasikan sebagai rajutan ataupun tenunan. Non-woven dibentuk dari serat-serat yang dilumatkan, direkatkan atau dicampurkan bersamaan dengan bahan kimia, uap pemanasan (thermal) atau dengan cara mekanis. Dengan demikian meniadakan pintalan, tenunan, ataupun rajutan.

Penggunaan praktisnya terutama untuk fashion terbatas, disebabkan sifat jatuh (drape) jelek, kurang kuat, dan biasanya terlalu tebal untuk pakaian. Tetapi masing-masing mempunyai makna yang perlu diperhatikan. Sebuah contoh adalah, felting yaitu salah satu metode tertua di dunia dari pembuatan bahan, mungkin telah mendahului tenunan.

contoh felting fabric untuk peredam suara

Netting dan braiding adalah teknik-teknik lama, kedua-duanya dipergunakan dalam pembuatan renda (lace).

Fusing, bonding, laminating adalah pengembangan secara modern yang menggunakan Adhesives (perekat) untuk saling mengisi serat-serat yang pendek atau bahan yang direkatkan/dilem bersamaan.

Jenis Kain Berdasarkan Berat Kain


Selain klasifikasi berdasarkan konstruksi, bahan tekstil dapat digolongkan berdasarkan berat yaitu:

  • Kain ringan (60 gr/m2)
  • Kain menengah/medium (60-140 gr/m2)
  • Kain setengah berat (140-250 gr/m2)
  • Kain berat (> 250 gr/m2)

Dengan Anda mengetahui berat kain, maka Anda dapat mengetahui sifat bahan menurut jatuhnya bahan sesuai dengan desain.

Contoh jenis kain berdasarkan beratnya.

Jenis Kain Nama Kain
1 Kain Ringan
  • Kain Batiste
  • Kain Lawn
  • Kain Nainsook
  • Kain Voile
  • Kain Organdy
  • Kain Dimity
  • Kain sutra (silk)
2 Medium
  • Kain Cambridge

  • Kain Mori

  • Kain Gingham

  • Kain Chambray

  • Kain Blacu

  • Kain Tetoron Satin

  • Kain Arrow Gishkin

3 Kain Setengah Berat
  • Kain Celana
4 Kain Berat
  • Kain Tweed

  • Kain Kanvas

 

Penyempurnaan Bahan Tekstil


Proses penyempurnaan (finishing) dapat didefinisikan sebagai pengerjaan pada serat, benang, atau kain yang dimaksudkan untuk penyempurnaan tampilan, pegangan, atau daya guna/fungsi dari bahan-bahan tersebut.

  • Penyempurnaan penampilan bahan dapat berupa proses pencelupan, pencapan, atau proses mekanik untuk menambah efek mengkilap, kerut, dan sebagainya.

  • Penyempurnaan pegangan untuk membuat bahan menjadi lembut, efek penuh atau berisi bila dipegang, efek kaku, dan lain sebagaiya.

  • Penyempurnaan daya guna bahan berupa beberapa sifat khusus, misalnya bahan menjadi tidak kusut, tidak tembus air, tidak tembus udara, tahan api, dan sebagainya.

Hasil dari proses penyempurnaan tekstil ada yang bersifat sementara, artinya dengan sekali atau dua kali pencucian akan hilang, dan ada yang bersifat permanen artinya masih bisa hilang efeknya tetapi setelah dicuci berkali-kali.

Proses Persiapan Penyempurnaan Tekstil


Pembakaran Bulu

Proses ini bertujuan untuk menghilangkan bulu-bulu yang berupa ujung-ujung serat yang menonjol/keluar dari permukaan benang atau kain.

Bulu-bulu serat hanya terdapat pada benang staple. Bulu-bulu serat akan mengurangi kilap bahan, kelicinan permukaan bahan, dan akan menahan kotoran sehingga bahan cepat kotor.

Bahan tekstil yang harus dibakar bulunya yaitu yang menghendaki permukaan licin dan mengkilap, corak permukaan kelihatan, kotoran yang menempel mudah dihilangkan pada waktu pencucian, tidak gatal waktu dipakai dan sebagainya. Misalnya kain sapu tangan, kain serbet, kain yang akan di-merser, benang jahit, bahan pelapis (lining/voering), dan sebagainya.

 

Proses Penghilangan Kanji (Desizing)

Proses ini bertujuan untuk menghilangkan kanji pada benang lusi yang sebelumnya diberikan sebagai penguat saat proses pertenunan. Kanji akan mengganggu pengerjaan penyempurnaan selanjutnya. Zat-zat penghilang kanji antara lain asam sulfat dan enzim.

 

Proses Pemasakan (Scouring)

Proses ini bertujuan melepaskan kotoran zat perekat alam serisin dari filamen serat sutra. Penghilangan tersebut terdiri atas pemanasan dalam larutan alkalin atau larutan sabun. Proses ini juga digunakan untuk menghilangkan minyak-minyak dan kotoran yang terdapat pada serat-serat buatan.

Proses Pengelantangan (Bleaching)

Pengelantangan merupakan proses pemutihan terutama bahan kapas dengan cara merusak zat-zat pigmen alam yang ada pada serat. Proses pengelantangan dilakukan apabila:

  • Bahan yang dikehendaki berwarna putih bersih, misalnya kain putih, pakaian putih, kain seprai, sarung bantal, dan sebagainya.
  • Bahan akan dicelup atau dicap dengan warna-warna muda dan cerah, misalnya merah, kuning, orange, dan sebagainya.

 

Proses Stabilisasi Dimensi Kain (Stensering)

Proses pada mesin stenter, yaitu mesin dengan prinsip menarik kain ke arah panjang dan lebar serta dengan memanaskannya sekaligus dimana lebar dan panjang kain dapat di setting, demikian juga dengan temperaturnya sehingga diperoleh kain dengan dimensi sesuai dengan yang dikehendaki.

Variasi suhu serta penarikan yang diberikan akan menentukan sifat kain menjadi lembut atau keras, penuh atau tipis. Dalam proses ini, corak kain yang berbentuk garis atau kotak-kotak yang berubah oleh proses sebelumnya dapat dikembalikan ke bentuk semula.

Adanya pengerjaan Stentering dapat diketahui dengan adanya bekas lubang-lubang jarum atau bekas jepitan pada pinggir kain.

Kain yang mudah mulur, misalnya kain rajut (knit), dengan permukaan berkerut-kerut seperti kain krep atau kain yang menghendaki pegangan lembut, pada umumnya tidak dikeringkan dengan mesin stenter, tetapi dengan mesin pengering sengkelit (loop) untuk menstabilkannya.

Proses Penyempurnaan Tekstil


Proses penyempurnaan tekstil dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu

  1. Penyempurnaan tekstil secara Kimia dan mekanik
  2. Penyempurnaan Secara fisika/Mekanik

 

Penyempurnaan tekstil secara Kimia dan mekanik antara lain :

  • Merserisasi
  • Krep/Pengeritingan (Creaping)
  • Penyempurnaan Tahan Kusut (Anti Crease Mark)
  • Penyempurnaan Anti Susut (anti-shrink)
  • Penyempurnaan Tahan Air dan Tolak Air
  • Penyempurnaan Tahan Api

 

Merserisasi

Tujuan Proses merserisasi adalah untuk mendapatkan sifat-sifat yang lebih baik dari bahan kapas, diantaranya kekuatannya, daya serap, dan kilaunya. Proses ini dilakukan dengan perendaman sesaat bahan kapas dalam larutan kaustik soda atau alkali kuat, kemudian segera dilakukan proses netralisasi dan pencucian. Efek dari proses ini akan miningkatkan sifat kapas antara lain:

  • Bahan menyusut
  • Kekuatan bahan bertambah tinggi
  • Daya serap terhadap air meningkat
  • Daya celup zat warna bertambah tinggi
  • Pegangan bahan menjadi lebih penuh.

 

Krep/Pengeritingan (Creaping)

Penyempurnaan krep bertujuan untuk membuat permukaan kain menjadi tidak rata atau berkerut. Ada dua cara yaitu: cara mekanik dan cara kimia.

  • Penyempurnaan krep cara mekanik dilakukan dengan mengerjakan kain pada mesin kalender Em­bossing, di mana permukaan rol kerasnya bermotif kerut-kerut. Tetapi penyempurnaan ini bersifat sementara, karena akan hilang oleh pencucian berkali-kali dan oleh penyetrikaan.

  • Penyempurnaan krep cara kimia dilakukan dengan mencapkan pasta cap yang mengandung kaustik soda, asam sulfat, seng klorida, atau lainnya pada permukaan kain kapas. Oleh zat-zat penggelembung tersebut, serat kapas akan menyusut dalam pencucian, sedangkan bagian yang tidak dicap akan kusut sehingga menimbulkan efek kerut pada permukaan kain yang disebut efek plise. Hasilnya berupa bahan krep seersucker, crinkle (kain kelobot).

Penyempurnaan Tahan Kusut (Anti Crease Mark)

Tahan kusut adalah ketahanan (resistance) suatu bahan terhadap kekusutan dan sekaligus kemampuan untuk kembali (recovery) ke bentuk semula. Titik berat sifat tahan kusut ini ada­lah kemampuan pengembalian ke bentuk semula.

Istilah lain untuk proses penyempurnaan ini antara lain: cuci pakai (wash and wear), kering diangin-anginkan (drip dry), tanpa disetrika (non-ironing), anti kusut (anti crease), dan sebagainya.

Penyempurnaan Anti Susut (anti-shrink)

Tujuan penyempurnaan anti susut, adalah membuat kain mempunyai daya susut sekecil mungkin, sehingga pada penggunaannya tidak berubah walaupun dicuci berulang kali. Untuk penyempurnaan anti susut ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu sebagai berikut:

  • Penyempurnaan cara mekanik, banyak dilakukan pada kain kapas. Menyusutnya tidak lebih dari 1%, dapat diberi label Sanforized.
  • Penyempurnaan cara kimia, banyak dilakukan pada kain rayon dan serat sintetik. Dikerjakan dengan resin atau zat kimia lainnya yang dapat menutupi sifat serat yang menarik air, sehingga daya serap air terhadap serat menjadi kecil, yang mengurangi sifat menyusutnya.
  • Penyempurnaan cara mekanik-kimia, sering dilakukan pada kain dari campuran serat selulosa dan serat buatan, misalnya kain poliester/rayon, poliester/ kapas, atau lainnya. Me­nyusutnya tidak lebih dari 1%.

Penyempurnaan Tahan Air dan Tolak Air

Tahan air (water proof) adalah kemampuan kain dapat menahan air dan udara.

Tolak air (water repellent) adalah kemampuan menahan air, tetapi udara masih dapat menembusnya.

Untuk kain yang tahan air (water proof) penyem­purnaan dilakukan dengan cara melapisi permukaan dengan lapisan karet/lateks, seperti kain untuk jas hujan (rain coats).

Untuk kain yang bersifat tolak air (water repellent), dipergunakan zat-zat yang dapat menolak air seperti emulsi malam, sabun-sabun logam, dan zat aktif permukaan, yang melapisi benang-benangnya saja tetapi tidak menutupi pori-pori antar benang, sehingga udara masih dapat menembus. Zat-zat tersebut bersifat tidak permanen yang dapat hilang dengan pencucian berkali-kali.

Penyempurnaan Tahan Api

Penyempurnaan tahan api dimaksudkan untuk melindungi tekstil yang mudah terbakar menjadi sukar terbakar atau lambat terbakar.

Serat-serat mineral bersifat tidak dapat terbakar, misalnya serat asbes. Serat-serat protein dan beberapa serat sintetik yang termoplastik akan meleleh sewaktu terbakar dan melekat pada kulit, sehingga memungkinkan luka bakar lebih dalam. Serat selulosa mudah sekali terbakar dan memberikan letikan api setelah api padam. Konstruksi kain yang tebal dengan anyaman-anyaman terbuka akan terbakar dengan cepat, sedangkan kain berbulu akan terbakar bulunya terlebih dahulu, baru kainnya.

Penyempurnaan tahan api dilakukan dengan cara merendam sambil diperas (impregnasi) dalam larutan yang mengandung borak, natrium silikat, atau lainnya. Zat-zat ini mempunyai titik leleh yang rendah sehingga dengan adanya api, garam tersebut akan segera meleleh dan menutupi kain sebagai suatu lapisan seperti gelas yang tidak dapat terbakar dengan segera, karena zat-zat tersebut menghasilkan suatu gas yang tidak dapat terbakar sewaktu pemanasan.

Penyempurnaan Secara fisika/Mekanik antara lain :

  • Kalendering/Setrika (Comfit)
  • Penyempurnaan Dekatis
  • Penggarukan Bulu

Kalendering/Setrika (Comfit)

Penyempurnaan tambahan untuk mempe-roleh tekstur (lembut, kaku), kilau, pola timbul, serta sifat tahan gesekan pada kain. Pelaksanaannya dapat dikerjakan secara mekanis atau kimiawi. Penyetrikaan (calandering) merupakan proses penyempurnaan mekanik yang dilakukan dengan melewatkan kain diantara rol logam yang dipanaskan dan rol lunak untuk mendapatkan kain yang halus, rata gan glossy.

Penyempurnaan Dekatis

Proses dekatis ini serupa dengan penyetrikaan dengan uap yang memberikan sifat kain menjadi sangat berkilau karena permukaan kain menjadi halus.

Cara pengerjaan: kain kering digulung dengan tegangan pada silinder yang berlubang-lubang. Selanjutnya, dialirkan uap air melalui silinder tersebut, dan akan menerobos kainnya.

Uap air dan panas menyebabkan kain bersifat plastik sehingga tegangan yang terdapat pada kain menjadi kendur dan kusut-kusutnya menghilang. Selanjutnya, kain dikeringkan dengan cara melewatkan udara dingin melalui kain tersebut, yang berakibat serat-serat kain akan stabil.

Penyempurnaan dekatis sekarang banyak juga dikerjakan pada kain campuran wol dengan serat sintetis atau serat sintetis dengan kapas. Proses ini menghasilkan kain-kain terutama wool worsted atau woolen bermuka halus, tahan terhadap kekusutan dan pegangannya empuk.

Penggarukan Bulu

Penyempurnaan menggaru bulu bertujuan untuk membuat agar permukaan kain berbulu, sehingga menjadi hangat jika dipakai, karena kain berbulu akan dapat menahan panas.

Penyempurnaan ini dilakukan secara mekanika, yaitu dengan mesin penggaru bulu dimana serat-serat pada permukaan kain ditusuk-tusuk dan dikait-kait oleh jarum lurus dan jarum bengkok sehingga ujung-ujung serat pada benang akan keluar dan menyerupai bulu pada permukaan kain.

Untuk membuat kain berbulu, diperlukan syarat-syarat tertentu yang meliputi:

  • Benang pakan dibuat dari serat panjang
  • Antihan benang pakan sekecil mungkin
  • Kain harus lunak

Proses menggaru bulu dilakukan dalam pembuatan kain selimut, flanel, dan sebagainya.

Sumber :

  • modul pengajaran Sekolah Menengah Kejuruan tata busana , Pengetahuan Bahan Tekstil
  • wikipedia.com,
  • dll

12 komentar untuk “Pengenalan Bahan Tekstil”

  1. Ping-kembali: BELAJAR MERANCANG BAHAN DAN HARGA - fesyendesign.com

  2. Ping-kembali: Mengenal Kain Non Woven - fesyendesign.com

  3. Ping-kembali: Kain Oxford - fesyendesign.com

  4. Ping-kembali: Mengenal Kain Damask - fesyendesign.com

  5. Ping-kembali: Pemilihan Bahan Tekstil Untuk Desain Busana - fesyendesign.com

  6. Ping-kembali: Mengenal Teori Dasar Tekstil - fesyendesign.com

  7. Ping-kembali: Contoh-contoh Pemilihan Bahan Sesuai dengan Desain - fesyendesign.com

  8. Ping-kembali: Cara Pemeliharaan Bahan Tekstil - fesyendesign.com

  9. Ping-kembali: Pengenalan Bahan Pelengkap Busana - fesyendesign.com

  10. Ping-kembali: Tips Membeli Bahan Tekstil - fesyendesign.com

  11. Ping-kembali: Arti Simbol Perawatan Pada Busana - fesyendesign.com

  12. Ping-kembali: Mengenal Alat Jahit Penunjang - fesyendesign.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *