PERHATIKAN HAL BERIKUT SEBELUM MEMOTONG KAIN

Menghitung Kebutuhan Bahan (Merancang Bahan)


Yang dimaksud dengan merancang bahan adalah menghitung kebutuhan bahan dalam membuat pakaian. Merancang bahan sangat diperlukan untuk menghemat pemakaian bahan dalam membuat suatu model pakaian. Dengan membuat rancangan bahan, maka diharapkan tidak sampai terjadi penggunaan bahan yang berlebih atau bahkan kurang.

Dalam merancang bahan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  • Tanda-tanda (kode) yang terdapat di dalam pola,
  • Arah serat bahan,
  • Motif bahan, dan
  • Model pakaian

Selain hal tersebut di atas, perlakuan terhadap bahan sebelum meletakkan pola juga harus diperhatikan, diantaranya adalah: meluruskan benang pada ujung jahitan, meluruskan tenunan benang, penanganan penyusutan bahan, melicinkan atau meratakan permukaan bahan, dan mengecek cacat (defect) kain.

 

Tanda-tanda Pola


Salah satu cara menentukan jumlah bahan yang diperlukan dalam pembuatan suatu pakaian adalah dengan mengilustrasikan penempatan pola-pola kecil di atas bahan dengan skala perbandingan tertentu. Untuk itu pengetahuan tentang pola sangat diperlukan.

Tanda-tanda pola adalah tanda-tanda yang tertera pada suatu pola yang memiliki fungsi dan maksud nya masing-masing. Berikut contoh tanda-tanda pola standar yang biasanya dipakai.

(Sumber : Buku Rahasia Cepat Membuat dan Mendesain Baju Sendiri, Puspa Sekar Sari)

Arah Serat Kain


Pada bahan pakaian, khususnya kain tenun terdapat dua arah serat benang, serat benang yang memanjang (benang lungsin) dan arah serat benang yang melebar (benang pakan).

Benang lungsin biasanya dibuat lebih kuat daripada benang pakan, ketika menenun benang lungsin direntangkan pada alat tenun dan mengalami gesekan, sentakan dan tarikan terus-menerus.

Saat membuat pakaian, rancangan bahan atau pada saat meletakkan pola pada bahan, maka dalam menentukan arah panjang badan sebaiknya mengikuti arah lungsin bahan. Kesesuaian arah serat bahan dengan arah panjang tubuh akan menambah kekuatan pakaian yang dihasilkan, disamping juga berpengaruh terhadap tampilannya yang lebih baik. Bentuk pakaian pun tidak berubah (meregang/menyusut) signifikan setelah dipakai, dicuci dan disetrika.

Untuk model-model tertentu yang memerlukan kelenturan tertentu (seperti draperi) atau untuk bagian-bagian seperti kerah, lapisan untuk belahan, pembuatan kumai serong dan rompok, diperlukan posisi bahan dengan arah serong (tidak searah benang pakan), sebab dibutuhkan keregangan yang lebih tinggi untuk mengikuti bentuk pakaian yang diharapkan.

 

Motif Bahan


Motif bahan contohnya kotak-kotak, garis, polkadot (bintik-bintik), motif bunga, binatang, motif abstrak, motif batik dan sebagainya. Disamping itu ada juga bahan yang tidak bermotif atau polos.

Untuk bahan yang tidak bermotif, tidak akan banyak mengalami kesulitan dalam penyusunan pola. Demikian pula dengan motif abstrak atau motif serak (tidak beraturan), pola dapat diletakkan berlawanan arah, tidak perlu memperhatikan pertemuan motif pada garis-garis sambungannya.

Untuk bahan bermotif dengan motif searah, kotak, garis ataupun motif istimewa (misalnya batik), kita harus memperhatikan peletakan polanya. Motif-motif tersebut harus diperhatikan pertemuan motif pada tiap bagian sambungan pakaian. Misalnya pada garis tengah muka atau tengah belakang, pertemuan sisi badan, dan pertemuan antara motif pada badan dan sakunya.

Motif istimewa sangat diperhatikan pertemuan antar motifnya sehingga pada bagian muka dan belakang, dan pada garis sambungan suatu pakaian hendaknya motifnya tidak terputus.

 

Model Pakaian


Model pakaian juga termasuk hal yang harus diperhatikan dalam merancang bahan, karena sebelum pakaian dibuat harus ditetapkan modelnya terlebih dahulu. Setelah model dipilih, pola dasar diubah sesuai dengan model yang dikehendaki. Pola yang sudah diubah inilah yang nantinya akan diletakkan pada bahan.

model pakaian simetris
Hi-low skirt, model pakaian asimetris (sumber wikipedia.com)

Dengan model pakaian ini dapat ditentukan di bagian mana letak belahan, lapisan apa saja yang dibutuhkan, serta detail-detail atau aksen-aksen lain yang terdapat pada suatu model pakaian. Dengan demikian, dapat diketahui apakah bahan harus dibentangkan atau dilipat, jika berkaitan dengan model pakaian simetris atau asimetris.

Untuk model pakaian simetris bahan pakaian dapat dilipat dua memanjang, karena model pakaian kiri dan kanannya sama. Sedangkan untuk model asimetris, meletakkan bahannya harus dibentangkan karena model pakaian kanan dan kirinya tidak sama.

Dengan mengetahui model pakaian, dapat diketahui pula bagian pola yang mana yang harus diletakkan pada lipatan kain, bagian pola yang mana yang harus diletakkan serong, dan lain sebagainya.

 

Menyiapkan Bahan


Setelah memperhatikan empat hal di atas, maka selanjutnya adalah meletakkan pola pada bahan yang sesungguhnya. Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan dalam meletakkan pola pada bahan, di antaranya adalah :

  1. meluruskan benang pada ujung bahan,
  2. meluruskan tenunan bahan,
  3. efek penyusutan bahan, dan
  4. meratakan atau melicinkan tenunan bahan, serta
  5. memeriksa cacat kain.

a) Meluruskan Benang pada Ujung Bahan

Kain tenun yang bagus adalah kain yang arah benangnya sejajar dan rata. Benang pakan membentang rata dan lurus dari ujung ke ujung, tegak lurus (90 derajat) dengan benang lungsin dengan benang lusi. Tidak miring (skewing) atau bengkok (bowing) di persilangan tenunannya.

Meluruskan benang disini adalah memastikan benang pakannya lurus dan sejajar dari sisi kiri ke kanan. Semua bahan yang ditenun dapat diluruskan ujungnya.

Ada dua macam cara dalam meluruskan benang, yaitu dengan :

  • menyobek kain dan atau
  • mengguntingnya.

Beberapa bahan dari serat kapas dengan tenunan rapat seperti blaco, kain sprei, popelin, berkolin atau bahkan yang bukan dari kapas seperti chiffon, krep soset dapat diluruskan dengan cara menyobeknya.

Caranya adalah dengan menggunting sedikit pada tepi kain, kemudian menyobeknya sampai habis ke ujung tepinya. Penyobekan harus dilakukan dengan cepat, jika menarik sobekan terlalu pelan dikhawatirkan tepi sobekan berkerut dan tidak rata.

Apabila saat menyobek sempat terhenti di tengah bisa berakibat berubah arah sobekan ke arah benang lungsin.

Bahan-bahan yang mulur seperti kain triko, dan bahan tenunan renggang, seperti vitrase dan brokat tule, sangat susah diluruskan dengan cara menyobek.

Caranya adalah dengan menarik satu atau dua helai benang pakan dari tepi ke tepi kemudian digunting mengikuti garis benang pakan yang dilepas tersebut.

Potong lurus benang pakan (sumber www.blueprintsforsewing.com/blog/archives-2)

Untuk meluruskan ujung bahan yang bermotif, seperti motif kotak-kotak, garis-garis, bunga-bunga, bintik, atau motif-motif lain yang beraturan, terkadang tidak dapat mengikuti arah benangnya. Hal ini mungkin dikarenakan kainnya bowing atau skewing.

Yang diprioritaskan disini adalah mengikuti motif (sejauh penyimpangan arah benangnya tidak besar) karena akan lebih terlihat bagus setelah menjadi pakaian.

Setelah ujung bahan diluruskan menurut arah benang atau motif, selanjutnya adalah bahan dilipat dua, memanjang searah benang lungsin tepat di tengah kain, dibentangkan di atas meja atau tempat datar.

Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, yaitu tepi kiri dan kanan kain bertemu, dengan benang pakan sejajar rata. Posisi demikian adalah yang baik dan kita harapkan. Hal lainnya adalah tepi kiri dan kanan bertemu tetapi posisi atau arah benang pakannya tidak sejajar (miring).

b) Meluruskan Tenunan Bahan

Meluruskan tenunan sangat bergantung pada jenis bahannya. Jenis-jenis bahan, seperti katun, sutera,  wol, dan jenis bahan sintetis, meluruskannya dapat dilakukan dengan menarik-narik kain menurut serong bahan sehingga sudut-sudut bahan bertemu dan tepi-tepi bahan dapat bertemu sejajar saat dilipat.

Jika cara di atas tidak berhasil, dapat dilakukan cara lain yaitu dengan merendamnya dalam air.

  • Sebelum di rendam, bahan dilipat dua dahulu ke arah panjang kain hingga kedua tepi dan sudut kain saling bertemu.
  • Jahit jelujur kedua lapis bahan tersebut pada tepi-tepinya arah memanjang dan melebar.
  • Lipatan bahan yang telah dijelujur tersebut dilipat lagi dengan renggang sehingga memungkinkan untuk bisa direndam di dalam air.
  • Dengan direndam dalam air maka pelurusan benang-benang tenunan menjadi mudah.
  • Biarkan sejenak, kemudian angkat bahan dan bentangkan di atas meja.
  • Tarik perlahan ke arah serong sampai posisi tenunan menjadi lurus dan bahan tidak bergelombang.
  • Keringkan bahan dengan cara diangin-anginkan pada tali jemuran atau di atas meja.

c) Efek Penyusutan Bahan

Hal ini perlu dilakukan untuk menghindarai penyusutan bahan setelah bahan dijahit, terutama bahan-bahan katun, sehingga tidak mengakibatkan pakaian tidak sesuai dengan ukuran yang dikehendaki.

Penyusutan bahan harus diperiksa sebelum meletakkan pola pada bahan. Ada beberapa bahan tekstil yang sudah mengalami proses anti susut saat pembuatannya dan biasanya ditandai dengan pencantuman keterangan anti susut di pinggir kain. Kenyataannya, pada saat membeli bahan, kita tidak mengetahui apakah bahan tersebut telah mengalami penyusutan atau tidak. Cara sederhana untuk mengetahui penyusutan bahan adalah dengan cara perendaman di dalam air.

Untuk mengetahui susut bahan, dapat dilakukan dengan cara sederhana, potonglah bahan dengan ukuran 15 X 15 cm, kemudian cuci/rendam bahan tersebut, lalu dikeringkan dan seterika. Apabila ukuran bahan tersebut tetap, berarti bahan tersebut tidak susut. Sebaliknya, bila ukurannya mengecil berarti bahan tersebut mengalami penyusutan sehingga perlu dilakukan perendaman terhadap seluruh bahan.

d) Melicinkan atau Meratakan Permukaan Kain. 

Hal ini berfungsi untuk menghilangkan kerut dan lipatan yang terdapat pada bahan akibat dari penyimpanan bahan yang kurang baik.

Cara yang dapat dilakukan adalah dengan menyetrika bahan di bagian belakang atau bagian buruk kain ke arah memanjang (arah lungsin).  Jika bahan sulit diratakan, dapat dibantu dengan cara membasahi permukaan kemudian disetrika sampai bahan benar-benar rata.

e) Memeriksa Cacat Kain

Cacat kain bisa berupa benang putus, berlubang, motif rusak, warna tidak rata, noda tidak bisa hilang, dan lain-lain yang akan berdampak jelek pada pakaian apabila dijahit.  Kita harus menghindari peletakan pola pada kain yang cacat.

Kita periksa bahan dari cacat atau defect , tandai cacat kain dengan penanda atau stiker yang jelas terlihat sehingga waktu peletakan pola dapat dihindari penempatan pola di area cacat tersebut.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *