QA & QC Pada Industri Garmen

Pengertian


Kualitas

Quality/kualitas/mutu dalam industri garmen dapat didefinisikan sebagai kesesuaian produk atau hasil akhir dibandingkan dengan standar atau spesifikasi tertentu serta pencapaian nilai kepuasan konsumen atas produk.

Untuk membandingkan kualitas produk dengan standar yang diinginkan maka dapat dilakukan dengan cara: 

 

Quality Control (QC)

Quality Control adalah upaya pengendalian mutu selama proses produksi, menjaga produksi berjalan sesuai dengan standard mutu yang telah ditetapkan dalam rangka untuk menghasilkan produk akhir yang baik sesuai standard yang telah ditetapkan. Memeriksa hasil produksi dari awal proses sampai hasil jadi untuk memastikan kesesuaian dengan standar kualitas yang telah ditentukan.

Quality Assurance (QA)

Quality Assurance (QA) dapat didefinisikan sebagai berikut:

  • Upaya memberikan penjaminan bahwa proses produksi dapat memenuhi kriteria dan ketentuan yang telah disepakati untuk menghasilkan produk yang baik.
  • Suatu usaha dalam mencegah kesalahan atau pun cacat pada produk manufaktur, menghindari permasalahan dalam menyediakan  produk atau layanan kepada pelanggan.
  • Definisi menurut ISO 9000 adalah sebagai “bagian dari manajemen mutu yang berfokus pada pemberian keyakinan bahwa persyaratan mutu akan dipenuhi”.

QA/QC

QA/QC adalah kombinasi dari penjaminan kualitas (QA), proses atau serangkaian proses yang digunakan untuk mengukur dan memastikan kualitas suatu produk, dan pengendalian kualitas (QC), proses untuk memastikan produk dan layanan memenuhi harapan konsumen.

QA berorientasi pada proses dan berfokus pada pencegahan kerusakan, sedangkan QC berorientasi pada produk dan berfokus pada identifikasi cacat (defect).

 

Defect/Cacat

Defect adalah ketidaksempurnaan/kesalahan/kerusakan/penyimpangan suatu produk dari spesifikasi/standar yang ditetapkan. Hal ini bisa disebabkan karena kesalahan dalam penanganan bahan baku, proses produksi, proses akhir produksi atau kesalahan dari faktor yang lain.

Defect dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam yaitu:

  1. Critical defect (cacat kritis)
  2. Major defect (cacat mayor)
  3. Minor defect (cacat minor)

 

Critical Defect

Critical defect adalah cacat yang tidak bisa diterima atau ditolak (reject). Critical defects adalah segala sesuatu yang dapat membahayakan bagi si pemakai produk.

Berikut ini adalah beberapa contoh critical defects:

  • Terdapat benda tajam (patahan jarum, staples, rivets, kawat, pins, dll.)
  • Tidak memenuhi unsur keamanan untuk produk bayi dan semua yang berhubungan dengan CPSC (Consumer Product Safety Commission)
  • Pada produk bayi dan anak-anak, komponen yang longgar seperti kancing, snaps, batu aksesoris (stone), dan lain-lain.
  • Benang, tali atau sisa benang tidak terpotong (trims) yang terlalu panjang atau longgar yang dapat membahayakan bayi atau anak.

Apabila ditemukan critical defect pada audit maka rijek dan harus diperiksa semuanya (100%).

 

Major Defect

Major defect adalah cacat yang tampak atau terlihat dengan jelas dan bisa berdampak terhadap kelayakan jual. Defect dapat berasal dari bahan baku (kain), bahan bantu (aksesoris), atau kesalahan proses produksi. Cacat jenis ini umumnya tidak bisa atau sulit untuk diperbaiki.

Contoh major defect:

  • Bolong, sobek
  • Jahitan putus, loggar/kencang/kerut di zona a
  • Noda minyak di zona a
  • Ukuran tidak sesuai spesifikasinya
  • Dll.

 

Minor Defect

Minor defect adalah cacat yang tidak terlalu kentara terlihat apalagi bagi konsumen awam sehingga bisa dikatakan tidak sampai mengakibatkan penurunan mutu produk secara langsung. Cacat jenis ini umumnya dapat diperbaiki.

Contoh minor defect:

  • Hasil perbaikan yang tidak bagus
  • Slub lebih kecil dari ¼”
  • Skip 1 stitch pada blind stitch
  • Ujung benang tidak terpotong lebih kecil dari ½”
  • Benang menempel (kotor).

 

Zona Defect

Pada pemeriksaan secara visual, zona A adalah area pakaian yang paling terlihat di mana mata akan fokus ketika pakaian dikenakan. Zona B adalah area lain dari pakaian di mana defect mungkin tidak akan terlalu terlihat dan tidak begitu berdampak pada tampilan pakaian. Zona C adalah area paling tidak terlihat dan kecil sekali dampaknya pada tampilan, contohnya area bagian dalam pakaian.

  • Defect pada zona A dianggap lebih serius dibandingkan pada zona B,
  • Defect pada zona B dianggap lebih serius dibandingkan pada zona C.

Terdapat beberapa pengecualian mengenai zona defect dan hal ini kembali lagi tergantung dari permintaan atau ketentuan yang ditetapkan buyer, misalnya:

  • Hanya berlaku zona A dan B (tidak ada zona C)
  • Tidak ada Zona B dan C pada celana dan rok dengan panjang 23” ke bawah jika diukur dari bawah pinggang.
  • Tidak ada Zona B dan C untuk pakaian dalam dan celana dalam.

 

Contoh Defect

Defect dapat berasal dari bahan baku (kain) dan bahan penunjang (benang dan aksesoris) selain juga terjadi karena kesalahan saat proses produksi.

 

Defect Kain

Yaitu defect yang ditemukan pada kain (bahan), biasanya terjadi pada saat proses pembuatan kain (tekstil).

  • Slub, neps, holes, sobek, handfeel, odor
  • Color shading
  • Staining, minyak, cacat printing
  • Inkonsistensi lebar, bowing, skewing.
  • Cacat pakan dan lusi kosong
  • Cacat tenun/rajut

 

Defect Aksesoris

Yaitu defect pada aksesoris, baik dari materialnya yang rusak atau pun karena kesalahan dalam mengaplikasikan saat produksi (garmen).

  • Cacat aplikasi
  • Ketidaksesuaian disain, warna, detail
  • Ketidaktepatan pemposisian kode.

 

Defect pada Cutting

Defect yang ditemukan pada proses cutting.

  • Ketidak-sesuaian ukuran dan kualitas potongan
  • Color shading
  • Kekurangan komponen cutting panel.

 

Defect Assembling/Sewing

Defect yang terjadi pada proses jahit.

  • Defectives Stitching (Jahitan putus/loncat/ngambang)
  • Puckering , Bubling (kerut/menggembung)
  • Open seam (ketidak-sempurnaan joint antar panel/jahitan putus atau terbuka)
  • Frying fabrics (tepi kain terurai)
  • Staining (noda kotor)
  • Measurement discrepancies (penyimpangan ukuran)
  • Fitting tidak sesuai

 

Defect Finishing dan Packing

Defect karena kesalahan pada proses finishing dan packing.

  • Kesalahan pemasangan hang tag
  • Kesalahan packing method
  • Shining akibat kesalahan steaming
  • Trimming tidak bersih (lebih panjang dari 2,5 cm)
  • Staining (noda kotor)

 

 

Pemeriksaan (Inspection)


Pemeriksaan/pengecekan/pengujian dilakukan dalam setiap tahapan proses, dari pembuatan sample, pengadaan bahan baku (kain) dan aksesoris, proses potong (cutting), jahit (sewing), finishingdan pengemasan (packing).

 

Sample

Pengecekan sample dilakukan untuk memastikan kesesuaian sample dengan keinginan pemesan (buyer). QC mengecek sample berdasarkan permintaan (sample request) dan comment buyer.

Hal-hal yang perlu diperiksa antara lain:

  • Bentuk dan konstruksi garmen sesuai permintaan
  • Penggunaan bahan dan aksesoris sesuai spesifikasi
  • Ukuran sesuai dengan spesifikasi
  • Fitting proporsional sesuai permintaan
  • Workmanship atau kualitas pengerjaan.

 

Bahan (Fabric)

Setiap bahan yang datang harus dilakukan pengecekan dan sejumlah pengujian untuk memastikan spesifikasi dan kualitas sesuai permintaan.

Pengecekan yang dilakukan terhadap bahan (kain) diantaranya:

  • Inspeksi kain (fabric inspection)
  • Kesesuaian warna (color approval, shade matching)
  • Kemiringan/kelengkungan benang pakan (skewing/bowing)
  • Tes susut kain (shrinkage test)
  • Berat kain (fabric weight test)
  • Panjang dan lebar kain (roll length and width)
  • Pegangan kain (handfeel)
  • Dll.

 

Inspeksi Kain (Fabric Inspection)

Yaitu pemeriksaan kain secara visual menggunakan mesin inspeksi (atau manual di atas meja) untuk mengecek dan mengidentifikasi adanya defect kain sebelum release ke proses cutting.

Setiap temuan defect ditandai dan diberi poin penalty dengan menggunakan metode 4-point system atau 10-point system.

Inspeksi kain dilakukan minimal 10% dari total rol per lot per warna. Apabila hasil inspeksi rijek maka dilakukan lagi pengecekan dengan persentase lebih besar. Apabila hasil inspeksi tetap rijek, biasanya kain dikembalikan ke supplier kain atau dilakukan pengecekan 100% untuk disortir dan dibuatkan marker khusus (special marker) pada proses cutting.

4-Point System

Aturannya adalah sebagai berikut:

  • Panjang defect kurang dari 3 inchi (8 cm) diberi poin 1
  • Defect 3-6 inchi (8-15 cm) diberi poin 2
  • Defect 6-9 inchi (15-23 cm) diberi poin 3
  • Defect lebih besar dari 9 inchi (23 cm) diberi poin 4
  • Defect lubang atau bolong diberi poin 4
  • Terdapat 2 defect dalam satu yard diberi poin 4
  • Maksimal points untuk setiap roll adalah 20 points per 100 yds2 (sesuai permintaan atau standar tertentu)
  • Maksimal points untuk semua roll adalah 13 points per 100 yds2 (sesuai permintaan atau standar tertentu)

Rumus 4 point system

Poin / 100 yds2 = (total poin per rol x 100 x 36) / (panjang kain yang diinspeksi dalam yard x lebar kain dalam inchi)

 

Shade Matching

Shade matching adalah usaha membandingkan kesamaan warna kain dalam satu rol dan lot yang sama. Hal ini dilakukan untuk mengecek seberapa jauh shading (warna belang) pada bahan sehingga bisa diantisipasi saat cutting.

Biasanya dilakukan dengan memotong kain 20 x 20 cm pada ujung, tengah, pangkal, dan pinggir kain untuk kemudian dilihat seberapa jauh perbedaan warnanya. Shading warna yang tidak masuk standar toleransi akan ditandai dan dibuatkan special marker.

 

Fabric Skewing

Skewing atau kemiringan adalah perbedaan tinggi antara ujung kanan dan kiri kain bila ditarik garis lurus mendatar.

Rumus skewing:

Skewing (%) = (Selisih tinggi ujung kanan dan kiri kain x 100) / lebar kain

Umumnya toleransi skewing yang diperbolehkan adalah 3%.

 

Fabric Bowing

Bowing adalah perbedaan tinggi pada tengah kain bila ditarik garis lurus.

Rumus bowing:

Bowing (%) = (Selisih tinggi pada bagian tengah kain x 100) / lebar kain

Umumnya toleransi bowing yang diperbolehkan adalah 3%.

 

Shrinkage Test

Shrinkage test (pengecekan susut) dilakukan untuk mengetahui persentase susut kain setelah relax (dari gulungan/rol) dan washing.

Kain uji diberi tanda garis (50 x 50) cm2, cek ukurannya setelah di-relax,  setelah di-steam dan setelah di-washing.

Apabila persentase penyusutan kain ini tinggi, biasanya akan dilakukan optimalisasi proses relaks kain atau penambahan ukuran size specification.

 

Fabric Weight

Fabric weight atau berat kain diukur untuk memastikan kesesuaian bahan yang akan digunakan dengan standar yang sudah ditentukan. Makin berat suatu bahan biasnya main tebal dan sebaliknya.

Fabric weght akan  di cek dengan punch dan ditimbang, setidaknya sekali selama pengecekan (pada bagian tengah, kanan dan kiri kain). Toleransi fabric weight yang diterima biasanya adalah +/-5%.

 

Roll Length

Perbedaan panjang kain terhadap PO akan dicatat untuk mengantisipasi kekurangan kain.

Perbedaan panjang yang diterima adalah +/-2%

 

Roll Width

Lebar kain akan dicek minimal 3 kali, yaitu di awal, tengah dan akhir roll.

Toleransi biasanya +3% dari cuttable (sesuai lebar marker). Tidak ada toleransi lebih kecil dari lebar cuttable.

 

Color Approval

Warna, print dan motif kain dicek berdasarkan approval kain standar (sesuai pesanan buyer/customer).

 

Fabric Odor & Handfeel

  • Tidak ada toleransi untuk kain yang berbau busuk.
  • Tidak ada toleransi untuk handfeel, sesuai approval.

 

 

Pengecekan Aksesoris


Memastikan aksesoris yang akan digunakan sesuai spesifikasi dan dalam kondisi yang baik dalam tiap bulk production.

Contoh aksesoris antara lain:

  • label,
  • kancing,
  • zipper,
  • polibag,
  • boks karton,
  • benang,
  • dll.

Inspeksi minimal 10% (dari total kedatangan), jika ditemukan defect lebih dari 10% maka aksesoris dikembalikan ke supplier atau dilakukan pengecekan 100% (disortir). 

 

Label

Membandingkan label dengan standar approval. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada label antara lain:

  • jenis bahan,
  • ukuran label,
  • tulisan (art work), dan
  • warna.

 

Pengecekan Zipper

Pengecekan zipper sesuai approval, diantaranya:

  • warna,
  • ukuran (toleransi ± 3/16”),
  • fungsional (open/closed)
  • ketahanan warna/cat pada puller & stopper.

 

Pengecekan Bok

Pengacekan dilakukan terhadap;

  • ukuran,
  • tulisan (artwork) dan
  • kekuatan perporasi.

 

Pengecekan Kancing

Membandingkan dengan approval sample, antara lain:

  • warna,
  • ukuran, dan
  • posisi dan jumlah lubang.

 

Pengecekan Benang

Pengecekan warna, nomer atau ukuran, dan jenis benang sesuai dengan approval sample

 

Pengecekan Elastic

Pengecekan sesuai dengan approval sample:

  • warna,
  • ukuran, dan
  • kelenturan atau elastisitas.

 

 

Pengecekan Cutting


Pengecekan di bagian Cutting dilakukan untuk memastikan hasil cutting sesuai dengan pattern.

Proses pengecekan di Cutting antara lain:

  • Pengecekan  marker
  • Pengecekan gelaran
  • Pengecekan hasil potongan

 

Pengecekan Marker

Setiap pattern baru yang akan turun produksi diperiksa kesesuaian ukurannya berdasarkan size spec.

Pengecekan yang dilakukan antara lain:

  • Kesesuaian style
  • Quantity garment sesuai dengan ratio marker
  • Kelengkapan panel
  • Penyusunan panel pada marker (bila ada permintaan khusus seperti matching, one way cut, dll.)
  • Ukuran panel (sesuai pattern)
  • Lebar marker disesuaikan dengan lebar cuttable kain
  • Arah panel pada marker.

 

Pengecekan Gelaran

Pengecekan yang dilakukan diantaranya:

  • Ketebalan gelaran
  • Kain motif (printing) harus bertemu atau matching (sesuai permintaan)
  • Arah printing satu arah

 

Pengecekan Hasil Potongan (Cutting)

Hasil cutting diperiksa dibandingkan terhadap pattern. Pada tumpukan bagian atas, tengah dan bawah untuk setiap meja. Untuk jenis style garmen yang harus matching maka perlu dicek 100% panel yang harus matching tersebut. Bila ada panel reject maka harus diganti dengan potongan panel yang baru.

Secara umum pengecekan yang dilakukan antara lain:

  • Bentuk dan ukuran panel (sesuai pattern)
  • Quality potong 
  • Quality kain
  • Shading
  • Matching panel
  • Kartu identitas panel dengan isi per bundle

Sedangkan untuk pengecekan kain yang di-fusing adalah sebagai berikut:

  • Jenis komponen yang akan difusing (sesuai approval sample)
  • Jenis interlining 
  • Penyetelan mesin (berdasarkan rekomendasi dari supplier interlining)
  • Ukuran panel setelah di-fusing
  • Warna panel setelah di-fusing

 

 

Pengecekan pada Sewing dan Finishing


Pemeriksaan kualitas pada proses assembling (sewing) sebaiknya dilakukan pada tiap tahapan proses, hal ini untuk menghindari terjadinya kesalahan yang semakin parah.

Berikut contoh QC yang bertugas mengontrol kualitas produksi sewing:

  • QC line (mengecek hasil produksi di line sewing),
  • QC finishing (mengecek hasil produksi setelah finishing),
  • QC in-process (mengecek proses sewing dan hasil akhir garmen).

 

QC Line

Line awal (depan), QC melakukan pengecekan terhadap:

  • SPI (jumlah setikan per inchi)
  • Jahitan (wokmanship)
  • Cutting way 
  • Shading 
  • Bentuk garment

 

QC Finishing

Melakukan pemeriksaan antara lain:

  • Tampilan
  • Jahitan
  • Kelengkapan aksesoris
  • Workmanship
  • Ukuran garment
  • Dll.

 

QC In-Proses

QC in-proses  melakukan pengecekan pilot run sebanyak 20 pcs size M. QC in-proses melakukan pengecekan terhadap operator sewing meliputi:

  • Gauge (alat bantu jahit, corong)
  • Margin
  • Ukuran (operator)
  • Tension benang
  • Accessories (berdasarkan Trim Card)
  • Hasil garment berdasarkan approval sample (workmanship dan aethestic)
  • Pola dan hasil cutting.
  • QC in-proses melakukan pengukuran berdasarkan AQL (Acceptable Quality Level).

 

 

Pre-Final dan Final Audit


Pre-Final Inspection

Pre-final inspection dilakukan untuk memastikan seberapa jauh kesiapan dan persiapan untuk dilakukan final-audit inspection.

Umumnya Pre-Final Inspection dilakukan setelah produksi manghasilkan output minimal 20%, dengan sampling yang dicek sebanyak 20 pcs. 

Pre-Final juga dapat dilakukan setelah garmen ada yang sudah di-packing berdasarkan AQL 4,0 atau sesuai keinginan buyer.

Inspeksi pada pre-final antara lain:

  • Packing audit
  • Workmanship
  • Measurement
  • Kelengkapan aksesoris
  • Bentuk garment berdasarkan approval sample dan sample comment.
  • Fitting
  • Dll.

Packing Audit

Packing audit biasanya dilakukan oleh QA bersamaan proses Pre-Final berdasarkan AQL 2,5.

Pengecekan dilakukan terhadap:

  • Shipping mark
  • Ratio packing
  • Check digit
  • Accessories packing
  • Quality carton box
  • Ukuran karton

 

Final Audit Inspection

Final audit adalah proses pemeriksaan akhir untuk menentukan kelayakan hasil produksi baik secara kualitas maupun kuantitas memenuhi minimum persyaratan standar yang sudah ditentukan.

Final audit dilakukan untuk menentukan apakah hasil produksi sudah layak untuk release pengiriman.

Syarat final audit dapat dilakukan biasanya adalah proses produksi sudah selesai 100% dan minimal 80% sudah di-packing.

Biasanya dilakukan oleh QC independent yang sudah disepakati atau QC buyer.

Pengecekan Final Audit sama seperti dengan saat melakukan proses Pre-Final.

  • Measurement audit AQL 6.5
  • Workmanship AQL 2.5 untuk ekspor 4.0 untuk lokal
  • Packing audit AQL 4.0

1 komentar untuk “QA & QC Pada Industri Garmen”

  1. Pingback: Kualitas Dalam Industri - fesyendesign.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *