Teknik Menjahit Bagian-bagian Busana

Menjahit Tepi Pakaian


Menjahit tepi pakaian yang terdapat pada garis leher, kerung lengan, tepi kelim (bawah rok, blus, ujung lengan) dan sebagainya. Penyelesaian ini dapat berupa depun, serip, rompok dan lain-lain.

 

Teknik Menjahit Kelim

Lebar kelim bervariasi sesuai dengan model serta jenis bagian busana yang akan di kelim.

  • Untuk bagian bawah busana, lebar kelim berkisar dari 1 – 5 cm.
  • Untuk gorden agar lebih seimbang lebar kelim 5 – 7 cm dan ada juga yang lebih lebar dari itu, yang penting ada keseimbangan antara lebar, panjang/tinggi gortden tersebut.

Kelim dapat dilakukan dengan tangan dan dengan mesin, supaya hasil yang didapatkan lebih indah dan bagus kelim dapat dikerjakan dengan tangan.

 

1) Mengelim hemming

Mengelim dipakai untuk bawah rok, blus, kebaya, ujung lengan dan sebagainya. Untuk mengelim bagian-bagian busana tesebut di atas, lebar kelim berkisar antara 3 – 5 cm.

Caranya :

  1. Lipatkan pinggir rok sesuai lebar yang kita inginkan
  2. Tirasnya dilipatkan kedalam lebih kurang 1 cm dan dibantu dengan jelujuran
  3.  Kemudian di sum dengan jarum, upayakan dalam lipatan betul-betul rata dan dijahit dengan jarum tangan.
  4. Mengelim/menusukkan benang ke bahan pada bagian bawah lebih kurang 3 helai benang, sehingga tidak kelihatan bekas tusukannya.
  5. Cara ini dilakukan terus-menerus sampai selesai.
  6. Supaya hasilnya kuat dan hasil tusukan tidak gampang lepas lebih kurang setiap 6 langkah tusukan dimatikan agar tidak lepas.

 

2) Kelim sumsang

Teknik mengerjakannya sama dengan mengelim hemming, tapi beda kerjanya pada cara memasukkan jarumnya yaitu dua kali dalam satu lubang sehingga benangnya mati dan tidak mudah lepas. 

 

3) Kelim tusuk flanel

Kelim tusuk flanel yaitu kelim yang bahan pinggirnya di obras, tanpa melipatnya kedalam.

Hasil kelimnya lebih rapi, biasa untuk bahan yang tebal, rok, blus, ujung lengan dan sebagainya.

Caranya :

  1. Dilipitkan pinggir rok, selebar yang dinginkan dan dibantu dengan jelujur;
  2. Dijahit dengan tusuk flanel yang satu diatas keliman tidak tembus sampai keluar dan yang satunya dibawah kelim dekat pinggir lipatan dengan langkah mundur.
  3. Hasil dari bagian baik hanya tampak satu baris dengan jarak 0.5 cm.

 

4) Kelim yang dirompok

Kelim yang di rompok terutama untuk bahan yang tebal seperti jas dan mantel.

Teknik pengerjaannya sama dengan disum, cuma tiras pinggirnya tidak dilipatkan tapi dirompok dengan bahan yang tipis agar tidak terlalu tebal, kemudian baru di sum.

 

5) Kelim palsu

Kelim palsu yaitu kelim untuk mengatasi masalah bila panjang kain tidak cukup untuk dibuat keliman, atau bahan yang terlalu tebal untuk dikelimkan.

Membuat kelim palsu yaitu dengan cara menyambungkan kain untuk kelim, kain yang digunakan bisa bahan yang sama atau bahan lain yang lebih tipis (jika bahan yang akan disambung terlalu tebal) tetapi warna kain penyambungnya sama dengan bahan pakaian.

Cara penggabungannya adalah:

  • Gunting kain sesuai dengan bentuk yang akan disambung,
  • lalu disatukan dan dikelim dengan som.
  • Lebar hasil setikan penyambungan tidak lebih dari 0.5 cm.

Untuk kelim, kelim som, kelim sumsang, tusuk flanel dan kelim rompak di kerjakan dengan jarum tangan, tapi untuk merompok biasa dikerjakan dengan jahit mesin dan untuk mensom keduanya tetap dengan tangan.

 

6) Kelim tindas

Kelim tindas yaitu kelim yang dijahit dengan mesin.

Cara mengerjakan kelim tindas adalah,

  • kelim dilipitkan sesuai dengan keinginan dan dilipatkan kurang lebih 1 cm, 
  • kemudian ditindas dengan mesin,
  • hasil tindasan hanya satu jahitan yaitu pada pinggir kelim.

Ini biasanya dipakai untuk pinggiran kemeja, ujung kaki piyama, kaki celana, bawah rok, blus, dsb.

 

7) Kelim konveksi

Kelim konveksi yaitu kelim yang sering dipakai di konveksi, yaitu untuk keliman rok, blus, kemeja, ataupun  celana.

Caranya sama dengan kelim tindas tapi perbedaannya terletak pada tusukannya. 

Tusukan kelim konveksi terdiri dari 2 baris yaitu di atas dan dibawah (double) dan lebarnya kurang lebih 1 cm.

 

8) Kelim rol

Dapat dibuat dengan dua cara :

  1. Kelim yang dibuat dengan mesin serbaguna dengan memakai sepatu rol serta setikan zig-zag.
  2. Kelim juga dapat dibuat dengan cara manual, dengan memakai jarum tangan dengan cara menggulung kecil tiras, kemudian dijahit dengan tusuk balut.

Kegunaan kelim rol adalah untuk mengelim pinggiran kain yang tipis, pinggiran baju kerut/rimpel, ujung lengan pof, dsb.

 

9) Kelim som mesin

Kelim som mesin ini adalah kelim yang bekasnya di bagian baik seperti som tangan tetapi dengan menggunakan mesin.

Caranya :

  1. Pinggir kain dikelim dengan jelujur sesuai dengan yang diinginkan
  2. Kemudian kelim dilipatkan dengan bagian keliman ke bawah sebesar keliman yang disisakan biasanya 0.2 cm.
  3. Dijahit pada sisa keliman dengan cara sepatu mesin sedikit di angkat
  4. Kemudian turunkan sepatu mesin dan jahit terus berulang-ulang sampai selesai

Kelim som dapat dijahit dengan memakai mesin serbaguna atau bisa juga dengan mesin khusus untuk garmen. Mensom bahan-bahan yang tebal dan untuk konveksi (garmen) agar pekerjaan lebih efektif dan efisien.

 

Teknik menjahit depun, serip dan rompok

Menjahit depun, serip dan rompok pada umumnya dipakai untuk penyelesaian leher, kerung lengan, dan sebagainya.

 

Depun

Depun yaitu lapisan menurut bentuk yang letaknya ke dalam kelim.

Depun dapat diartikan  melapis/mengelim pinggiran kain dengan menggunakan kain lain yang sama bentuknya (sama sebangun).

Jika yang akan dilapisi bundar maka depunnya bundar juga, dan bila segi empat depunnya segi empat juga.

Lebar keliman 3 sampai 4 cm atau sesuai keinginan tapi harus diseimbangkan.

Caranya sbb :

  1. Gunting depun sesuai dengan bentuk yang akan didepun (leher).
  2. Letakan sisi baik depun berhadapan dengan sisi baik busana, kemudian dijahitkan tepat pada garis pola dengan bantuan jarum pentul atau jelujuran
  3. Rapikan tiras dan diretak-retak sampai batas jahitan dengan jarak 1 – 2 cm.
  4. Tindih dari atas depun dan arahkan tiras ke depun.
  5. Pinggir depun di som dengan mengobras terlebih dahulu atau melipatkan kedalam 2 cm

 

Serip

Serip yaitu lapisan menurut bentuk / kain serong yang hasil lapisannya menghadap keluar.

Serip berfungsi untuk penyelesaian pinggiran busana, disamping itu serip juga berfungsi untuk hiasan atau variasi bagian busana.

Serip sering dipakai pada garis leher, kerung lengan, ujung lengan, ataupun pinggir / bawah rok. Warna kain yang digunakan untuk serip, bisa kombinasi atau kain yang warnanya sepadan (serasi).

Cara menjahitnya :

  1. Tehnik menjahit serip sama dengan menjahit depun, tapi serip hasilnya menghadapnya keluar sedangkan depun hasilnya menghadap kedalam. 
  2. Cara meletakan bahan, waktu pemasangan serip kain bagian baik menghadap ke bagian buruk busana kemudian dijahit pada garis pola.
  3. Tiras jahitan dirapikan dan digunting-gunting kecil (halus) dengan menggunakan ujung gunting.
  4. Kampuh dijahit dengan posisi tiras diarahkan ke luar (kampuh terjahit).
  5. Dibalikan (diarahkan keluar) dan dipres dengan seterika agar rapi
  6. Penyelesaian serip setelah dilipatkan ke dalam lebih kurang 0.5 cm dijahit pada pinggir

 

Rompok

Rompok adalah penyelesain pinggir pakaian dengan menggunakan kumai serong atau bisban. 

Rompok sering digunakan untuk menyelesaikan lingkar kerung lengan, garis leher dan sebagainya. Besarnya hasil rompok untuk lingkar kerung lengan adalah 0.5 – 0.7 cm yang tampak dari bagian baik dan bagian buruk. 

Kumai serong didapat dengan menggunting bahan (kain) dengan arah serong (diagonal) dengan cara melipat bahan/kain dengan sudut 45 derajat dengan lebar lebih kurang 2.5 cm. Sedangkan bisban dapat dibeli di pasaran. Bisban tersedia dalam bermacam-macam warna.

Cara membuat kumai serong :

  • kain dilipat dengan sudut 45 derajat,
  • diukur sesuai dengan lebar yang diinginkan,
  • lalu digunting sesuai dengan tanda.

Cara menyambung kain serong berbeda dengan kain lurus. Menyambung kain serong harus sesuai dengan arah benang.

Kegunaan rompok, selain untuk penyelesaian pinggiran pakaian, juga dipakai sebagai variasi atau hiasan pakaian yang biasa dipakai pada bagian leher, kerung lengan, ujung lengan, garis princes, garis empire atau pada kerah.

Cara menjahitkan rompok pada garis leher :

  1. Tempat memasangkan rompok pas pada tanda pola (gambar a),
  2. jahitkan kain serong pada pinggir yang akan dirompok lebih kurang 0.6 cm dari bagian baik,
  3. bagian baik bahan berhadapan, dan rapikan bis sesuai lebar yang diinginkan (gambar b)
  4. Dilipatkan kedalam dengan lebar yang diinginkan dan di bagian dalam tiras kain serong dilipatkan melebihi batas rompok sebesar 1 mm (gambar paling bawah)

 

Pemasangan Lengan


Desain lengan ada bermacam-macam seperti lengan licin, lengan kop, lengan poff, lengan kop poff, lengan reglan dan sebagainya. Teknik pemasangan setiap jenis lengan ini juga berbeda disesuaikan dengan model dan bentuknya, secara prinsip ada 3 bentuk lengan:

  1. lengan yang dijahitkan pada lingkar kerung lengan,
  2. lengan reglan yaitu lengan yang dijahitkan dari garis leher menuju ketiak, 
  3. Lengan setali adalah lengan yang menyatu dengan badan.

 

a) Lengan licin

Lengan licin yaitu lengan yang bentuk lingkar kerung lengannya licin, yang ada hanya kerutan semu pada lengan yang tujuannya agar pemasangan lengan tidak kaku dan enak dipakai, terutama pada puncak lengan.

Cara pemasangannya adalah sebagai berikut:

  1. Siapkan badan yang sudah dijahit garis bahu dan garis sisi.
  2. Jahit puncak kerung lengan dengan setikan jarang dua lajur, garis pola terletak diantara setikan, dengan jarak antara setikan 0,5 cm.
  3. Jahit sisi lengan
  4. Ukur lingkar kerung lengan badan dan samakan dengan ukuran lingkar kerung lengan pada lengan.
  5. Pasangkan lengan, dengan posisi bagian baik badan menghadap bagian baik lengan dengan bantuan jarum pentul atau jelujuran dan posisikan garis bahu tepat pada titik puncak lengan. Jahit sekeliling lingkar kerung lengan pada garis kampuh.

 

b) Lengan poff

Lengan poff yaitu lengan yang mempunyai kerutan pada puncak lengan, lengan ini banyak dipakai oleh wanita dan anak-anak.

Cara pemasangannya adalah sebagai berikut:

  1. Siapkan badan yang sudah dijahit garis bahu dan garis sisi.
  2. Jahit puncak kerung lengan dengan setikan jarang dua lajur, garis pola terletak diantara setikan, dengan jarak antara setikan 0,5 cm. Lalu dikerut sesuai kebutuhan/desain.
  3. Jahit sisi lengan
  4. Ukur lingkar kerung lengan badan dan samakan dengan ukuran lingkar kerung lengan pada lengan.
  5. Pasangkan lengan, dengan posisi bagian baik badan menghadap bagian baik lengan dengan bantuan jarum pentul atau jelujuran dan posisikan garis bahu tepat pada titik puncak lengan. Jahit sekeliling lingkar kerung lengan pada garis kampuh.

 

c) Lengan Raglan

Lengan reglan adalah lengan yang tidak mempunyai lingkar kerung lengan tetapi mempunyai garis serong dari leher sampai ketiak (sisi badan) baik bentuk bagian muka maupun bagian belakang.

Cara menjahitnya adalah:

  1. Satukan badan muka dengan lengan muka
  2. Satukan badan belakang dengan lengan belakang
  3. Satukan sisi dari ujung lengan sampai batas bawah busana kiri dan kanan.

 

d) Lengan setali

Lengan setali adalah lengan yang tidak mempunyai lingkar kerung lengan. Lengan setali dibuat menyatu dengan badan, ada yang mempunyai garis bahu dari leher sampai panjang lengan atau tidak mempunyai garis bahu (garis bahu dibuat pada lipatan kain).

Cara menjahitnya:

  1. Satukan garis lengan bagian muka dengan bagian belakang baik sebelah kiri ataupun sebelah kanan kanan (untuk yang ada jahitan di bahu).
  2. Jahit sisi lengan terus ke sisi badan dengan demikian lengan sudah dibentuk.

 

 

Pemasangan Kerah


Kerah merupakan salah satu penyelesaian pinggir pakaian yang dipasangkan pada leher. Kerah mempunyai bermacam-macam bentuk, desain dan ukuran. Dari berbagai bentuk desain kerah akan memberikan kesan atau nilai tersendiri bagi si pemakai. Berikut ini akan dijelaskan beberapa teknik pemasangan kerah.

 

a. Pemasangan Kerah Memakai Lajur atau Serip

Pemilihan bentuk kerah haruslah disesuaikan dengan bentuk muka, bentuk leher, dan bentuk tubuh seseorang seperti, seorang mempunyai leher pendek dan gemuk tidak cocok memakai kerah berdiri, akan tetapi orang ini akan kelihatan menarik dan cantik dengan style kerah yang dilipatkan keluar, dan pada lehernya diturunkan, seperti kemeja yang kancingnya tidak dipasangkan pada penegak kerah.

Setiap jenis kerah mempunyai bagian-bagian seperti bagian kerah atas dan bagian kerah bawah juga memakai pelapis kerah. Pelapis kerah sekarang ini banyak pula jenis dan macamnya. Dalam pemilihan pelapis yang harus diperhatikan adalah bentuk (jenis) kerah, asal bahan seperti untuk kerah jas, pelapis yang baik dipakai adalah pelapis yang tebal seperti pelapis bulu kuda, dan jika untuk kerah rebah (kerah baby) cukup dengan pelapis resin (staflek). Dengan kemajuan teknologi sekarang ini, pelapis kerah pada umumnya sudah memakai lem yaitu salah satu permukaannya memakai resin thermo plastik, yang dapat menempel pada bahan busana dengan cara memberi pemanasan dan tekanan beberapa waktu seperti dengan sterika prees atau mesin pres yang disebut juga fusing. Teknik memotong pelapis kerah adalah sebatas pola (sama dengan ukuran pola kerah) berarti tidak termasuk tiras, dan dijahit dibatas pelapis dan ada juga yang sama dengan lembaran kerah dan pelapis. Pemasangan pelapis dengan cara menempelkan pelapis yang memakai lem pada bagian buruk bahan kerah dengan tepat kemudian di press dengan mesin press atau seterika press. Kerah yang dipasang dengan memakai lajur atau serip adalah kerah rebah, kerah mandarin, kerah matros (kelasi).

 

1) Kerah rebah (kerah terletak)

Kerah rebah disebut juga kerah baby karena kerah ini banyak dipakai untuk busana bayi, busana anak-anak, dan busana wanita. Teknik menjahit kerah rebah adalah sama untuk semua jenis, tetapi bentuknya saja yang berbeda antara kerah rebah, kerah palerin dan kerah matros. 

Teknik menjahitnya sama yaitu:

  1. Kerah digunting sesuai pola ditambah kampuh 1 cm
  2. Agar bentuknya bagus diberi pelapis vislin dengan ukuran sama dengan pola.
  3. Dijahit dengan setikan mesin selebar kampuh kecuali pada bagian leher.
  4. Tirasnya digunting kecil-kecil sampai pada batas setikan dengan jarak 1 s.d 2 cm, tujuannya agar bentuk kerah tidak kaku (menurut bentuk) lalu dipress (ketika menggunting tiras jangan sampai tergunting benang setikan)
  5. Pasangkan pada leher dengan depun (kumai serong) dengan posisi badan atau (leher) bagian baik, kerah dan depun.
  6. Lalu dijahit dengan mesin pada sekeliling lingkar leher sesuai dengan tanda pola.
  7. Gunting kecil-kecil sekeliling leher dan ditindas seperti memasang depun.
  8. Depun atau kumai serong di somkan ke badan.

 

2) Pemasangan kerah dengan sesama kerah

Teknik menjahit kerah sesama kerah antara lain adalah kerah kemeja, dan kerah bord (kerah sanghai). Untuk kerah ini selalu menggunakan pelapis kerah untuk menguatkan dan membantu memperindah bentuk kerah. 

Kerah kemeja adalah kombinasi dua kerah yaitu kerah bediri dan kerah setengah berdiri. Kerah kemeja dengan penegak biasa ditemukan pada kemeja pria dan dapat pula digunakan pada jacket dan pakaian wanita. Jenis kerah ini mempunyai dua bahagian yaitu bahagian kerah dan bahagian penegak. Penegak bisa digunting terpisah atau bisa sejalan dengan kerah. Penegak terpisah, pemasangan kerah pada pakaian sama seperti kerah berdiri lainnya.

Pelapis kerah di pasangkan pada kerah bahagian bawah, tetapi apabila bahan pakaian tembus terang atau sangat tipis pelapis kerah dapat di pasangkan pada kerah bahagian atas, untuk mencegah agar kampuh tidak kelihatan setelah kerah selesai di jahit. Bahagian atas kerah dan penegak boleh distik dengan mesin.

Cara menjahit kerah kemeja:

  1. Gunting bahagian kerah dan penegak rangkap dua dengan garis tengah belakang pada lipatan kain. Beri tanda pola pada masing-masing bahagian kerah.
  2. Gunting pelapis satu rangkap, kemudian beri tanda pola. Pasangkan pelapis pada bagian buruk kerah bagian bawah atau kerah bagian atas atas (sesuaikan dengan jenis bahan).
  3. Dempetkan bagian baik kerah dan juga pada bagian penegak atas dan kerah bawah, dengan posisi bagian baik bahan berhadapan,semat dengan jarum pentul, kemudian dijahit. Pada sudut-sudut kerah selipkan beberapa helai benang yang berguna untuk membalikkan kerah. Tiras di gunting-gunting halus (agar menurut bentuk) sebelum dibalikkan.
  4. Balikkan kerah kearah bagian baik kerah, kemudian tarik lambat-lambat benang yang diselipkan pada sudut setelah ujung kerah rata dan bentuk ujung kerah sudah sama, sebaiknya dipres untuk mendapatkan hasil yang rapi dan bagus.
  5. Jika diinginkan stik mesin garis pinngiran luar kerah.
  6. Dempetkan bagian baik kerah bawah pada penegak bahagian bawah. Dempetkan penegak bagian atas pada kerah bagian atas kerah terletak antara penegak kemudian jelujur.
  7. Jahit mesin sepanjang garis kampuh penegaknya. Gunting-gunting kampuhnya seperti bentuk segitiga. Bukakan kampuh dan press pada papan kerah.
  8. Lipatkan penegak kearah bawah kerah sehingga kampuh berada pada bagian dalam kerah.
  9. Pentulkan pinggir penegak atas pada garis leher kemudian jelujur.
  10. Jahit dengan mesin bagian penegak yang dimulai dari garis tengah belakang, terus ke bahagian atas penegak, terus pada garis leher dan kembali ketengah belakang.

 

3) Pemasangan kerah dengan lapisan

Kerah yang pemasangannya dilapisi adalah kerah shiller, kerah jas dan kerah setali (Shal collor). Kerah shiller (minamora) adalah kerah yang mana lapisan tengah muka dilipatkan tanpa sambungan, bagian atasnya menjadi bagian bawah dari kerah setelah dibalik, sama dengan kerah jas, yang membedakannya adalah: kerah jas lapisan tengah mukanya disambungkan pada tengah muka karena ada pembentukan sesuai model pada river bagian kerahnya.

Kerah setali (shal collor) yaitu yang dikontruksi sejalan dengan pola bagian depan, garis luar kerah umumnya dibuat melengkung, tetapi ada juga yang dibentuk seperti kerah jas atau seperti kerah baju pramuka, bagian belakang pada tengah muka memakai lapisan sampai kebagian kerah dan yang tampak sebagai kerah itu adalah lapisannya.

 

4) Pemasangan kerah Shiller

Kerah shiller yaitu kerah yang bagian atas dan kerah bagian bawah terdiri dari satu potongan. Garis luar kerah pada lipatan kain dan tidak ada kampuh, tetapi mempunyai rever dan garis patahan kerah.

Cara mengerjakan:

  1. Gunting kerah dengan meletakkan pinggiran luar pola kerah pada lipatan arah panjang kain (menurut serat kain) ditambah kampuh lebih kurang 1,5 cm. Pelapis kerah sama dengan kerah bagian bawah.
  2. Pasangkan pelapis kerah pada bagian buruk kerah dengan cara di pres atau dijahit dengan mesin.
  3. Lipat dua lebar kerah dengan bagian yang dilapis berada sebelah atas kemudian jahit mesin kampuh kedua ujung kerah.
  4. Gunting miring kampuh sudut ujung kerah.
  5. Balikkan kerah kebagian luar dan rapikan bentuknya, kemudian dipress
  6. Pentulkan kedua bahagian kerah mulai dari garis tengah belakang, bahu kiri dan bahu kanan sampai batas tengah muka.
  7. Balikkan lapisan belahan pada bagian baik pakaian sehingga menutup bagian kerah sampai garis bahu, kemudian pentul dan jelujur.
  8. Gunting kampuh kerah atas pada garis bahu kiri dan kanan kemudian lipatkan kearah kerah.
  9. Jahit mesin mulai dari ujung lidah belahan kiri sampai ujung lidah belahan kanan. Untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan bentuk kerah, maka gunting-gunting kampuh dengan ujung gunting, tetapi jangan sampai kena setikan.
  10. Balikkan lapisan belahan kearah dalam pakaian dan rapikan bentuk sudut lidah belahan.
  11. Lipatkan garis kampuh kerah atas kearah dalam kerah mulai dari garis bahu kiri sampai garis bahu kanan, pentul dan jelujur.
  12. Jahitkan kerah bagian atas pada kampuh kerah bagian bawah dengan tusuk sum atau jahit mesin. Jahitkan ujung lapisan belahan pada garis kampuh.

 

5) Pemasangan kerah setali (shall collor)

Cara mengerjakan:

  1. Siapkan pola badan depan yang pada garis tengah muka sudah berbentuk/pakai kerah.
  2. Gunting lapisan kerah sepanjang tengah muka.
  3. Gunting pelapis (interlining) sesuai bentuk kerah dan tengah muka badan kemudian interlining di press.
  4. Pentulkan garis leher kerah bagian bawah pada garis leher belakang.
  5. Sambungkan garis tengah belakang kerah bagian bawah kemudian bukakan kampuhnya.
  6. Jelujur garis leher kerah bahagian bawah pada garis leher belakang dari garis bahu kiri sampai garis bahu kanan, kemudian jahit mesin.
  7. Gunting kedua sudut kampuh garis leher belakang.
  8. Sambungkan garis bahu lapisan leher belakang dengan garis bahu kerah bagian atas terus ke garis leher.
  9. Lipatkan pinggir dalam pelapis belahan ke arah bagian buruk kain dari pinggir bawah bagian kiri sampai kanan blus.
  10. Pentulkan bagian baik kerah atas dengan bagian baik kerah bagian bawah, jelujur, kemudian jahit mesin sepanjang garis luar kerah sampai pinggir bawah blus dan gunting-gunting kecil/halus tirasnya.
  11. Arahkan kampuh leher belakang pada kerah bawah kemudian jahitkan kampuh pada kerah bawah lebih kurang 1 mm dari sambungan garis leher.
  12. Balikkan kerah bagian atas kearah bagian dalam pakaian kemudian jelujur miring garis luar kerah sampai garis belahan.
  13. Lipatkan garis patahan kerah dan pentul mengikuti garis lipatan.
  14. Lipatkan garis leher belakang kearah dalam kerah, kemudian pentulkan garis leher belakang pada kerah bagian bawah.
  15. Jahitkan pinggir luar lapisan belahan pada pakaian dengan tusuk sum.

 

 

 

 

Sumber : MODUL TATA BUSANA/BUKU SMK/kelas10 smk tata busana, Ernawati.

2 komentar untuk “Teknik Menjahit Bagian-bagian Busana”

  1. mau tanya kak, kalau pinggiran kain sarung (diatas dan dibawah) yang tidak dijahit itu nama nya apa dan cara buat nya diapain ya kak?

    1. Itu pinggiran kain dari benang pakan yang bolak balik pada proses tenun mas. Biasanya pada tenun ATBM (alat tenun bukan mesin).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.