Desain, Pola, dan Marker di Industri Garmen

Ruang Lingkup


Secara umum proses produksi di dalam industri busana (garmen) terdiri dari: 

  1. Bagian Desain dan Perencanaan (Planing and Design Room
  2. Bagian Potong (Cutting Room), 
  3. Bagian Penjahitan (Sewing Room)
  4. Bagian Penyempurnaan (Finishing Room)
  5. Bagian pemeriksaan mutu (Inspection/Quality Control)

Ruang lingkup artikel di bawah ini adalah tentang proses pembuatan desain busana, pembuatan pola produksi, dan pembuatan marker di mana kegiatan tersebut terjadi di Bagian Desain dan Perencanaan (Planing and Design Room) dan Bagian Potong (Cutting Room). 

 

 

Desain dan Perencanaan


Tugas utama bagian Desain dan Perencanaan (Planing and Design Room) adalah menciptakan dan merencanakan busana yang akan diproduksi.

Lingkup pekerjaan desain dan bagian perencanaan antara lain:

  1. Membuat/menentukan desain busana
  2. Menganalisa desain
  3. Memilih/menetukan bahan baku/fabric
  4. Melakukan konsultasi desain dengan pemesan (buyer)
  5. Membuat desain produksi (Production design /Production sketching)
  6. Membuat Perencanaan Produksi dan Sampel

a. Membuat/menentukan desain busana

Langkah awal dalam industri busana/garmen adalah menetukan desain busana. Suatu desain harus mudah dibaca dan dipahami oleh orang lain sehingga mudah untuk diwujudkan berupa produk yang sesungguhnya.

 

b. Menganalisa desain

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menganalisa desain antara lain, siluetnya, bentuk kerah, lengan, saku, manset atau yang lainnya. Untuk memudahkan bagian sampel maka hasil analisa desain dituangkan ke dalam desain produksi/desain kerja atau gambar kerja.

 

c. Memilih/menetukan bahan baku/fabric

Di industri busana/garmen, pemilihan bahan baku/fabric merupakan salah satu tugas bagian desain dan perencanaan, namun tidak menutup kemungkinan pemilihan bahan baku ditentukan oleh pemesan/buyer baik dari segi warna, corak maupun teksturnya.

 

d. Melakukan konsultasi desain dengan pemesan (buyer)

Agar pemesan merasa puas, perlu dilakukan pembicaraan tentang desain sketsa yang sudah jadi untuk menentukan persetujuan. Bentuk persetujuan tersebut direalisasikan dalam bentuk Realisasi Order (RO) yang sudah ditandatangani oleh Buyer yang dalam hal ini diwakili oleh merchandiser.

 

e. Membuat desain produksi (Production Design /Production Sketching)

Desain produksi (Production Sketching) adalah suatu desain busana yang digunakan sebagai pedoman dalam proses produksi di industri busana (garmen). Semua detail model busana yang akan diproduksi harus digambar lengkap disertai keterangan-keterangan yang mendukung, agar mudah dipahami oleh seluruh team produksi seperti bagian pola, bagian sampel, bagian potong, bagian jahit, bagian finishing, supervisor dan follow up (Merchandiser).

Gambar produksi (Production sketching) ini harus dilengkapi dengan lembar kerja untuk produksi (Production sheet/worksheet). Lembar kerja (worksheet) menguraikan semua keterangan yang diperlukan dalam pembuatan produk busana, seperti jenis bahan, warna, corak, ukuran, pelengkap busana, kode produksi, jumlah/kuantitas produksi dan sebagainya, sesuai dengan kebutuhan proses produksi tersebut.

Gambar contoh lembar kerja (worksheet)

Desain produksi terdiri dari dua macam yaitu:

  • Desain produksi 1, adalah gambar busana yang dibuat dengan proporsi atau tanpa proporsi bagian muka dan belakang dan dilengkapi dengan analisa desain misalnya, kerah tegak, saku tempel, garis hias/princess, lengan dan manset.
  • Desain produksi 2, desain ini dilengkapi dengan keterangan ukuran bagian-bagian/detail busana. Bagian-bagian yang sulit gambarnya diperbesar supaya menjadi perhatian bagian pola, bagian potong maupun bagian jahit.
Contoh gambar desain produksi kemeja wanita

 

f. Membuat Perencanaan Produksi dan Sampel

Setelah desain ditentukan dibuat contohnya atau sampel mengacu desain produksi. Selanjutnya dilakukan konsultasi dengan bagian pemotongan (cutting), penjahitan (sewing), penjualan dan bagian pembelian sebelum dilaksanakan produksi masal. 

Sebelum dilaksanakan produksi masal terlebih dahulu dibuat Pre Production Sampel (PPC) yang dibuat untuk diperkenalkan kepada pemesan (buyer) untuk uji coba pemasaran. Setelah semua yang terkait menyetujui baru dilaksanakan produksi masal. Selanjutnya dilakukan analisa biaya dan analisa produksi.

 

Pola


Berdasarkan fungsinya pola jadi dibagi mendai 3 yaitu:

  1. pola standar atau pola master,
  2. pola cetak, dan
  3. pola rader.

Di industri busana bagian pola dibedakan menjadi tiga yaitu:

  • Bagian pembuatan pola (pattern making)
  • Bagian pembuatan sampel (sample making)
  • Bagian grading pola (pattern grading)

 

Bagian pembuatan pola (pattern making)

Bagian pembuat pola (pattern making) bertugas membuat pola berdasarkan permintaan pemesan/buyers. Dalam proses pembuatan pola kadangkala cara pembuatannya ditentukan oleh pemesan/buyer dengan melampirkan cara pembuatan pola dalam pesanannya. Tetapi apabila tidak ada lampiran cara pembuatan pola, maka perusahaan yang menentukan pola yang akan digunakan.

Pembuatan pola di industri garmen terdapat tiga tahapan proses yaitu:

  1. Pembuatan pola dasar (pola master)
  2. Pembuatan pola master yang sudah dirubah sesuai desain
  3. Pembuatan pola final yaitu pola yang sudah dilengkapi dengan tanda-tanda pola dan kampuh   
Contoh gambar pola badan, lengan, manset dan kerah kemeja wanita

 

Pembuatan pola di industri garmen berskala  besar biasanya sudah menggunakan program komputer. Optitex salah satu perangkat lunak (software)  yang dirancang untuk membuat pola busana melalui program Pattern Desaign System (PDS-10).  Ada beberapa software lain yang digunakan antara lain: Accumark gerber, Lectra modaris, Pad system, Style cad, Polygon, Winda cad, Gemini cad, Richpeace dan lain sebagainya.

Pola komputer adalah terapan proses pembuatan pola yang dibuat secara manual, untuk membuat pola secara komputer terlebih dahulu harus mengetahui komponen-komponen apa saja yang ada dalam proses pembuatan pola secara manual.

Kelebihan pola komputer antara lain:

  1. Menghemat waktu dalam pembuatannya
  2. Pola dapat dibuat dalam jumlah banyak sekaligus
  3. Mudah untuk memperbesar atau memperkecil ukuran pola
  4. Ukuran pola lebih akurat

Kekurangan pola komputer antara lain: 

  1. Software yang relatif mahal 
  2. Pola yang dibuat cenderung menggunakan pola standar
  3. Garis pola cenderung kaku atau kurang luwes.
Gambar software pola komputer

 

Bagian pembuatan sampel (sample making)

Sample making yaitu pembuatan contoh busana yang akan diproduksi. Sebelum busana diproduksi massal, perusahaan terlebih dahulu membuat sample/contoh sesuai dengan pesanan, apabila tidak sesuai dengan yang diminta, maka perusahaan akan memperbaiki pola yang telah dibuat disesuaikan dengan keinginan buyer.

 

Bagian grading pola (pattern grading)

Grading berasal dari kata grade yaitu memperingkatkan. Grading pola adalah memperingkatkan pola ke dalam satu atau beberapa size/ukuran di atasnya  (lebih besar) atau di bawahnya (lebih kecil).

Setiap negara mempunyai sistem tersendiri dalam menggrading pola. Berdasarkan percobaan dan penelitian yang dilakukan oleh para pakar di bidang pola bahwa untuk menggrading pola diperoleh melalui batasan tertentu dengan membandingkan proporsi seseorang. 

Orang yang bertugas pada bagian grading disebut Grader. Pola yang telah sesuai dengan sample akan di-grading sesuai permintaan. Proses grading dapat dikerjakan secara manual maupun digital dengan software komputer.

Proses grading pada perusahaan skala kecil dan menengah biasanya dikerjakan secara manual, tetapi pada perusahaan besar biasanya dibantu dengan menggunakan komputer, sekaligus dimanfaatkan untuk memperbanyak,  merancang bahan serta sebagai arsip perusahaan.

Pola manual yang sudah lengkap dengan aksesorisnya (misalnya saku), diletakan di atas sebuah papan putih (lecra system), pola di-scan dan data masuk ke komputer sehingga teknisi grading bisa melihat dan merubah bagian-bagian yang dirasa kurang sempurna.

Di dalam sistem komputer sudah terdapat ukuran standar besar/kecil tiap pola yang dibuat, teknisi grading hanya memasukkan selisih setiap ukuran yang dikehendaki.

Setelah pola di-grading pembuat marker tinggal menentukan/mengambil komposisi ukuran/size sesuai pesanan buyer untuk kemudian dibuat rancangan bahannya. Membuat rancangan bahan dengan sistem komputer lebih mudah karena di dalamnya tersedia fasilitas bentuk panjang kain yang digunakan, sehingga pola terkesan diletakan di atas kain/bahan, pada menu size dalam komputer bisa diatur panjang pendeknya bahan yang diperlukan.

 

 

Marker  


Bagian marker bertugas merencanakan tata letak pola, di industri garmen dikenal dengan marker layout atau lay planning yaitu susunan pola-pola dari suatu desain busana yang dikutip/digambar dari pola aslinya di atas kertas marker. Lembaran pola disusun sedemikian rupa agar pemakaian bahan lebih efisien.

Penyusunan tata letak pola secara manual dapat dilakukan dengan menyusun seluruh bagian-bagian pola dengan ukuran yang sebenarnya di atas kertas yang lebarnya sesuai dengan lebar bahan yang akan digunakan.

Marker disusun berdasarkan cutting order.

Tujuan utama dari penyusunan tata letak pola antara lain:

  1. Sebagai pedoman pekerjaan bagian potong (Cutting Room), 
  2. Untuk mengetahui kebutuhan bahan yang diperlukan sesuai dengan order yang akan diproduksi
  3. Untuk menghemat pemakaian bahan utama (fabric)

Alat dan bahan  untuk Marker Layout antara lain:

  1. Komputer dengan perangkatnya (Software Marker)
  2. Ploter (Mesin printer)
  3. Komponen-komponen pola kemeja wanita 
  4. Meja potong/meja untuk marker   
  5. Alat  tulis, penggaris, kertas marker, 
  6. Pemberat pola, jarum pentul, 
Gambar mesin ploter

 

Teknik membuat  Marker (Marking)

1) Secara Manual 

Mengutip dan menyusun lembaran lembaran pola secara efisien di atas selembar kertas polos (kertas koran), panjang dan lebar kertas dipotong sesuai kain yang akan dipergunakan untuk produksi.

2) Secara komputerisasi

Perencanaan tata letak pola dapat dipercepat secara komputerisasi melalui program komputer berupa software, dengan menggunakan alat yang disebut Tax-O-Graph, ukuran pola yang sebenarnya dapat langsung diubah menjadi pola mini yang berukuran seperlima kali ukuran aslinya, selanjutnya rencana tata letak pola tersebut disimpan sebagai data (file) dalam computer. Garment Marker System (GMS) mampu membuat pola potong secara sempurna sesuai dengan ukuran kain tanpa merubah bentuk pola satuan, sehingga mendapat susunan yang efisien dan menghemat pemakaian bahan/kain. 

Gambar Marker Kemeja dari Software Lectra

 

Prinsip-prinsip dalam membuat marker antara lain:

  1. Dalam satu Marker terdapat beberapa ukuran yang bervariasi antara lain: S, M, L, XL dan lain-lain.
  2. Peletakan pola harus efisien, setiap bagian pola saling bersentuhan/saling mengisi, tidak ada bagian-bagian yang kosong/terbuang. Garis arah serat (grain line) harus lurus benang (lusi).
  3. Tata letak pola yang lebih panjang akan lebih menghemat biaya tenaga potong, karena perhitungan biaya memotong untuk tenaga potong biasanya dihitung per lembar marker. 
  4. Setiap lembaran pola dilengkapi dengan kampuh. 
Gambar menyusun pola secara efisien

 

Order dan Cutting Order (Pesanan dan Instruksi pengguntingan)

  1. Order, yaitu pesanan konsumen (buyers) kepada pihak perusahaan untuk membuatkan suatu produk tertentu.
  2. Cutting Order, adalah instruksi pengguntingan yang dihasilkan melalui perhitungan order/pesanan secara keseluruhan.

Contoh tabel Cutting Order:

Ukuran/Warna S M L Jumlah
Merah 3 6 4 13
Hijau 4 6 3 13
Biru 6 3 4 13
Kuning 3 4 6 13
Hitam 4 6 3 13
Jumlah 65

 

Tahapan  yang harus dipersiapkan untuk instruksi peletakkan pola adalah sebagai berikut:

  1. Indentifikasi kain/bahan teksil
  2. Perhitungan dan pengelompokkan macam-macam ukuran dan jumlah setiap ukuran yang akan diproduksi
  3. Perhitungan jumlah penggunaan setiap warna kain
  4. Menentukan panjang dan lebar marker untuk efisiensi kain dan pekerjaan

 

Master Marker

Suatu industri busana (garmen) seringkali mendapat pesanan/order yang berulang dari desain/jenis busana yang sama, oleh karena itu penting bagi industri memiliki stok master marker. Master marker adalah salinan marker  yang dibuat sebagai arsip perusahaan industri busana/garmen yang dapat dipergunakan sewaktu-waktu diperlukan  

 

Master marker dapat dibuat dengan dua cara yaitu:

  1. Secara manual, Master Marker yang dibuat secara manual biasanya dilakukan di industri kecil. Cara ini dilakukan dengan mengutip satu persatu bagian-bagian pola pada marker dengan menggunakan kertas dan alat tulis.
  2. Secara komputerisasi, sesuai kemajuan teknologi di bidang industri garmen, marker yang dahulu dibuat secara manual maka pada saat ini master marker dapat disimpan dalam computer sebagai file. Master marker cara ini lebih efisien dan efektif dari segi biaya dan waktu.

 

 

 

Referensi:

  • MODUL GURU PEMBELAJAR PAKET KEAHLIAN TATA BUSANA SMK KELOMPOK KOMPETENSI D, Produksi Kemeja/Blus, Dra. Lily Masyhariati.MM, PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) BISNIS DAN PARIWISATA DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, 2016

2 komentar untuk “Desain, Pola, dan Marker di Industri Garmen”

  1. Pingback: BELAJAR MERANCANG BAHAN DAN HARGA - fesyendesign.com

  2. Pingback: Teknik Cutting Industri - fesyendesign.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.